Minggu, 23 November 2014

Latihan Menulis Puisi: Copy The Master

Oleh: Hari Untung Maulana

Latihan menulis puisi dapat dilakukan dengan berbagai cara.
salah satunya adalah dengan teknik copy the master
ada beberapa bentuk latihan teknik copy the master 

Bentuk Pertama Copy The Master
Mengganti beberapa kata dengan kata sendiri 


Teknik ini sebenarnya sangat dekat dengan plagiat.
Jadi, puisi dari hasil latihan copy the master dengan mengganti kata harus diperlakukan sebagai berikut:
1. Hanya sekadar untuk latihan di kertas yang akhirnya untuk dibuang
2. Tidak boleh dipublikasikan, dibukukan, atau dibacakan dalam forum-forum sastra.
3. Tidak menganggap bahwa puisi tersebut adalah murni hasil karya sendiri.
4. Ganti judulnya
Mengapa hal tersebut harus dilakukan. Karena akibatnya Anda dapat dianggap plagiator oleh orang lain yang merasa familiar dengan puisi Anda.




Contoh teknik copy the master dengan mengganti beberapa kata

Perhatikan, jika ada orang lain yang pernah membaca puisi "Prajurit Jaga Malam", tentu akan familiar dengan kata-kata depan yang tidak dihapus

PRAJURIT JAGA MALAM
Chairil Anwar
 
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

WAKTU LAH MELIBAS
Hari Untung Maulana

Waktu jalan. Melibas semua kepala
Pemuda-pemuda yang dulu gagah kini tidak


Mimpinya kemerdekaan mewujud jadi nyata
kepastian ada di sisiku memanggil manggil menderu

Aku suka pada mereka yang sambut panggilanku
Aku suka pada mereka yang duduk di sisiku

Malam yang berwangi mimpi, berbunga harapan
Waktu jalan. semua kepala terlibas

Ini perbandingan hasilnya


 ======================== latihan menulis puisi =====================

Bentuk Kedua Copy The Master
Ganti selang seling kata per larik
Teknik ini hanya memanfaatkan kata-kata yang ada sebagai pemancing kreativitas.
Hasil akhirnya harus benar-benar berbeda dengan puisi asal
Contoh

SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.


Kita dapat ubah seperti berikut

Sebuah jaket yang kau berikan padaku
Kami semua paham maksudnya
Telah pergi ia yang perkasa
Dalam kepedihan luka menganga

Sebuah sungai mengalir membawa tangis
Di bawah bayang-bayang kegelapan
Antara kebebasan dan khayalan tentang merdeka
Berlapis senjata yang tak tahu wujudnya
Akan mundurkah perjuangan kita
Seraya mengucapkan salam perpisahan
Berikrar setia pada nasib yang malang
Dan mengenakan ikat kepala kebodohan

Spanduk kumal itu, mengumumkan duka
Kami semua bisa membacanya
Dan di atas pusara-pusara muda
Menunduk anak cucu kita


Setelah kita ganti kalimat belakang, sekarang kita ganti kalimat depan

Jika Kita Kalah
Hari Untung Maulana

belati yang kau berikan padaku
aku paham maksudnya
tanda mata dari ia yang perkasa
pergi membawa luka menganga

rembang mengalir membawa tangis
gembala menggiring bayang-bayang kegelapan
dongeng dan khayalan tentang merdeka
menjelma ingat yang tak tahu wujudnya

sampai disinikah perjuangan kita
lambaian sapu tangan salam perpisahan
memuja pada nasib yang malang
runtuh dengan ikat kepala kebodohan

langit mengumumkan duka
kepala menengadah bisa membacanya
mengeja pusara-pusara muda
menyiapkan untuk anak cucu kita

Perhatikan, sudah menjadi puisi yang berbeda kan?
intinya, kata-kata (depan-belakang) hanya menjadi sumber inspirasi

ini perubahannya


SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun.

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang.

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.

      ----lomdajudul------------

Sebuah jaket yang kau berikan padaku
Kami semua paham maksudnya
Telah pergi ia yang perkasa
Dalam kepedihan luka menganga

Sebuah sungai mengalir membawa tangis
Di bawah bayang-bayang kegelapan
Antara kebebasan dan khayalan tentang merdeka
Berlapis senjata yang tak tahu wujudnya
Akan mundurkah perjuangan kita
Seraya mengucapkan salam perpisahan
Berikrar setia pada nasib yang malang
Dan mengenakan ikat kepala kebodohan

Spanduk kumal itu, mengumumkan duka
Kami semua bisa membacanya
Dan di atas pusara-pusara muda
Menunduk anak cucu kita



SETELAH KALIMAT BELAKANG DIGANTI
SEKARANG KITA GANTI KALIMAT DEPAN
JIKA KITA KALAH
Hari Untung Maulana

Belati yang kau berikan padaku
Aku paham maksudnya
Tanda mata dari ia yang perkasa
Pergi membawa luka menganga

Rembang mengalir membawa tangis
Gembala menggiring bayang-bayang kegelapan
dongeng dan khayalan tentang merdeka
menjelma ingat yang tak tahu wujudnya

sampai disinikah perjuangan kita
lambaian sapu tangan salam perpisahan
memuja pada nasib yang malang
runtuh dengan ikat kepala kebodohan

langit mengumumkan duka
kepala menengadah bisa membacanya
mengeja pusara-pusara muda
menyiapkan untuk anak cucu kita


JADI PUISI YANG BERBEDA KAN?

+++++++++++++++++++++++latihan menulis puisi++++++++++++++++++++++++

Bentuk ketiga copy the master
Ganti Selang Seling Larik

Kita cari puisi master 
Lalu kita hapus lariknya selang seling
contoh:

MATA HITAM
karya : WS Rendra

Dua mata hitam adalah matahati yang biru
dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu.
Rindu bukanlah milik perempuan melulu
dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.
Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi
kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi.
Dua mata hitam adalah rumah yang temaram
secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam.

menjadi...

Dua mata hitam adalah matahati yang biru
                                  (mata-mata yang melarikan kenyataan jadi maya)
Rindu bukanlah milik perempuan melulu
                                   (bahkan lelaki batu punya sekeranjang rindu)   
Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi
                                   (menggeliat, meluncur, dan menggapai Tuhannya)
Dua mata hitam adalah rumah yang temaram
                                   (hanya ada kerlip kunang-kunang yang kesepian)

setelah kita ganti larik yang urutan genap... sekarang kita ganti yang urutan ganjil
menjadi...

Di depanku berjejer dua ratus tiga puluh mata
                                  (mata-mata yang melarikan kenyataan jadi maya)
Bukan hanya kau yang sibuk memunguti rindu
                                   (bahkan lelaki batu punya sekeranjang rindu)   
Dia lemparkan ke segala penjuru mampir ke otakku
                                   (menggeliat, meluncur, dan menggapai Tuhannya)
Kini ia telah sampai di batas cahaya
                                   (hanya ada kerlip kunang-kunang yang kesepian)

baca juga yang satu ini:
Cara bikin puisi ala hroen20 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah memberi masukan