Rabu, 12 Agustus 2015

Film dari cerpen "Air Mata Tua" karya Motinggo Boesje

Kalau yang ini adalah film yang diambil dari cerpen 'Air Mata Tua' karya Motinggo Boesje
Rekaman ini dibuat oleh Depdikbud.








Di bawah ini cerpennya

AIR MATA TUA

Karya : Motinggo Boesje
 
Penjaga kuburan mendekatinya dan bertanya:”Kenapa Nenek
menangis?”
Diangkatnya kepalanya pelan-pelan, dipandangnya penjaga kuburan
itu agak lama, dan suaranya yang gemetar dan tua itu berkata:”Kalaulah
cucuku dapat bertanya seperti engkau itu.” Dia berhenti sebentar, dihapusnya
air matanya. “Engkau sendiri bekerja di sini?” tanyanya kemudian.
“Ya”.
“Sepantasnya engkau masuk surga, Nak”.
Kemudian penjaga kuburan itu duduk di semen kuburan itu dan nenek
itu berkata: “Kuburan-kuburan di sini bersih. Kalau nanti saya dikuburkan
di sini, kau bersihkanlah kuburanku itu baik-baik, Nak.”
“Nenek begini segar. Nenek masih lama lagi akan hidup,” kata penjaga
kuburan itu.
“Benar, saya masih akan lama hidup?”
“Benar, Nek” dan penjaga kuburan itu sambil mempermainkan lidi
sapunya dan berkata lagi: “Nenek masih kuat. Nenek saya lihat berjalan ke
sini tidak pakai tongkat dan masih kuat.”
“Kalaulah cucuku bisa menghibur saya macam kamu,” kata
perempuan tua itu sambil menghapus air matanya yang pelan-pelan berjalan
dari pinggir matanya menuju pipi.
“Cucuku ada lima orang, Nak. Tak seorang pun yang menanyakan
kesehatanku, apalagi kesedihanku. Kalau mereka memberiku makan, bukan
mereka yang mengatakan, “Makanlah, Nek, tapi si babu, cuma si babu yang
mengatakan itu. Si babu mengaji kalau saya sudah mengantuk,” perempuan
tua itu menangis lagi. “Pagi ini si babu membersihkan ladang. Ladang itu
sebenarnya adalah ladangku, tapi cucu-cucuku menganggap ladang itu
ladang mereka. Pada waktu musim memetik jeruk, saya cuma bisa makan
tiga buah jeruknya saja. Itu pun bukan yang manis-manis.”
“Di mana Nenek tinggal?”
“Di dapur, bersama si babu.”
“Di dapur?”
“Ya, di dapur, bersama-sama si babu. Kalau pagi saya kedinginan.”
Tangan tua nenek yang tua itu menepuk-nepuk semen kuburan itu. “Ini
kuburan Adam. Adam adalah suamiku,” katanya.
“Sudah lama suami nenek meninggal dunia?”
“Baru sepuluh tahun ini. Waktu Adam masih hidup, sama-sama kami
mandi di sumur. Adam yang menimbakan air untukku. Saya ingin lekas lekas
mati saja. Sepuluh tahun lamanya saya disiksa oleh cucu-cucuku itu.

Mula-mula saya tidur di kamar depan. Lalu, ketika cucuku yang tertua
kawin, saya dipindahkan ke kamar tengah. Ia kawin dan beranak, dan saya
dipindahkan lagi ke kamar belakang. Dan sekarang, saya menempati dapur
bersama-sama si babu. Kalau pagi saya merasa dingin. Si babu juga mengaji
kalau subuh,” dan dibetulkannya kerudungnya, lalu berkata: “Si babu pintar
sekali mengaji.”
Lalu nenek tua itu berkata lagi:”Musim memetik jeruk yang lalu,
saya cuma dapat tiga jeruk, itu pun yang masam-masam.”
“Yang masam-masam? Yang manis-manis untuk mereka?”
Kini pandangannya dengan matanya yang tua itu berputar ke arah
kuburan-kuburan sekeliling. “He!” gemetar ia tiba-tiba. “Tanah pekuburan
ini sudah penuh semuanya. Di mana nanti saya akan dikuburkan?”
“Masih ada sedikit, di sana,” kata penjaga kuburan itu.
“Sedikit?”
“Ya, sedikit.”
“Masih banyak lagikah yang akan mati, Nak?” tanyanya dengan
gelisah, dan kemudian bertanya lagi: Di mana nanti saya akan dikuburkan?”
“Kenapa nenek sampai berkata begitu?” tanya penjaga kuburan itu dengan
cemas pula.
“Saya sudah tua dan bukankah sebentar lagi mati? Di mana saya akan
dikuburkan? Saya tidak bisa mengumpulkan uang lagi sejak cucu-ucuku
tidak membagikan hasil penjualan buah-buahan ladangku. Ladang buahbuahan
itu sayalah yang punya. Padahal Adam yang membeli semua itu,
ketika kami baru kawin dan ketika itu saya tidak tua berkerinyut seperti ini.
Pohon-pohon jeruk itu Adam yang nanam. Tapi cucu-cucuku cuma
memberiku tiga buah jeruk saja, itu pun bukan yang manis-manis.”
Dia menangis tersedu-sedu dan berkata: “cuma ini uang simpananku.
Kamu hitunglah, Nak. Cukupkah buat beli tanah kuburan?”
Tangan tuanya meraba-raba stagennya dan memberikan uang yang
terlipat baik-baik itu kepada penjaga kuburan itu. Penjaga kuburan itu
menghitung-hitung dan kemudian tertawa.
“Kenapa kamu tertawa, Nak? Apa tidak cukup? tanyanya.
“Yang tiga lembar ini sudah tidak laku lagi,” jawab penjaga kuburan.
“Tidak laku? Itu adalah uang pensiun Adam yang kusimpan baikbaik.
Kenapa tidak laku lagi? Apa uang palsu? Tidak mungkin!”
“Uang ini sudah lama dinyatakan tidak berlaku lagi, Nek,” sahut
penjaga kuburan.
“Kenapa?”
Penjaga kuburan itu tak bisa menjawab.
“Tidak cukupkah membeli tanah kuburan dengan uang yang laku saja
itu?” tanya nenek tua itu tiba-tiba. Lalu dipandangnya tanah kuburan
sekeliling, dan dia berkata lagi: “Sudah penuh semua. Saya, musti membeli
yang sedikit itu. Saya tidak punya harta dan uang lagi selain itu. Tidak
cukupkah uang itu, Nak?”

“Belum cukup, Nek.”
“Belum cukup? Bagaimana akalku? Saya takkan minta pada cucucucuku
itu, karena mereka pun pasti tak mau memberi. Mereka cuma mau
mengambil kepunyaanku, sampai jeruk-jerukku pun diambilnya.”
Kini penjaga kuburan itu melihat perempuan tua itu merundukkan kepalanya
dan tiba-tiba dilihatnya seuntai kalung emas berayun-ayun di leher
perempuan tua itu.
“Nenek masih punya harta. Jangan kuatir! Semua itu bisa dibelikan
tanah kosong yang enam meter persegi,” kata penjaga kubur.
“Saya tidak punya apa-apa lagi kecuali uang itu dan yang tiga lembar
yang tidak laku itu.”
“Nenek masih punya kalung ringgitan emas.”
Perempuan tua itu terkejut dan tangan tua meraba ringgit yang tergantung
di lehernya. “Ini? Oh, ini pemberian Adam waktu kami kawin dulu.”
“Kalau nenek mau benar-benar membeli tanah pekuburan, jual sajalah,
Nek, kalung emas itu.”
“Dijual?” suaranya gemetar lebih hebat. “Apa saya mau dikutuk oleh
almarhum suamiku?”
Penjaga itu terdiam, tapi tetap dipandangnya nenek tua itu dengan
pandangan yang bersungguh-sungguh. Perempuan tua itu memandang ke
sekeliling lagi. Tanah-tanah pekuburan di sekitarnya ditangkapnya dengan
pandangan matanya yang tua, dengan linu.
“Emas tidak dibawa mati, ya, ya, emas tidak tidak dibawa mati. Saya
ingin dikubur di kuburan Adam. Ya, ya saya harus membeli tanah itu. Emas
memang tidak dibawa mati, Nak.”
Sejak dia keluar dari gerbang pekuburan, air matanya semakin kering.
Dan, sejak itu pula, setiap akan tidur sambil mendengar si babu mengaji
terbayang dalam angan-angannya yang tua sebuah pekuburan yang bersih
di mana ia tidur baik-baik di bawah permukaannya, di mana rohnya akan
bertemu dengan roh Adam, suaminya yang tercinta.
Dia telah membeli tanah itu! Dia seakan-akan telah membeli harga
yang terakhir dari masa hidupnya. Setiap malam dia berdoa dan mohon
kepada Tuhan agar saat itu pun tiba baginya.
Suatu malam ketika dia penuh dengan angan-angan, terdengar pintu
dapur diketuk orang. Siapa yang mengetuk pintu, malam-malam begini?
Apa si babu sudah tidur?
“Babu, bangunlah. Ada orang mengetuk pintu kita.”
Si babu tersentak. Ketika itu kepalanya di atas kitab suci. Matanya
sama menatap pintu itu dengan segala kecemasan dan sekali-kali ia melihat
kepada nenek tua yang sedang terbujur tidur
“Kaukira itu maling? Jangan takut, Babu. Kalau itu maling, apa yang
akan mereka ambil di dapur ini?”
“Bukan maling, Nek,” kata si babu, lalu berdiri dan kemudian
membukakan pintu. Seorang lelaki berdiri di pintu.

“Siapa itu, Babu?”
“Rakhman, Nek.”
“Rakhman, cucuku? Kenapa kau datang malam-malam begini, ke
sini? Biasanya tidak pernah”.
“Nenek harus pindah, malam ini juga, Nek,” kata lelaki itu.
Nenek itu mencoba sekuat tenaga membangunkan dirinya.
“Pindah? Kemana lagi kalian akan lemparkan diriku sekarang?”
Lelaki itu berjongkok. “Dokter menyuruh pindah,” katanya.
“Dokter”
“Ya, dokter!”
“Apa hak dokter, makanya ia mau lemparkan diriku! Bukankah rumah
ini pembelian Adam?”
“Ada wabah kolera. anak-anak diserang kolera.”
Kemudian masuk lagi seorang lelaki. Dialah dokter itu. Dan dokter
kemudian menjelaskan kepada nenek tua itu agar pindah ke rumah sakit
untuk menghindarkan penularan penyakit kolera.
“Baiklah, baiklah anak muda. Tapi biar pun di mana saja kalian
lemparkan saya, saya kan akan mati juga,” katanya. “Tapi jangan pisahkan
saya dari si babu,” katanya lagi.
Namun, dia tetap dipisahkan dari si babu. Kalau malam dia merasa
sunyi sekali, tidak didengarnya suara orang mengaji. Yang didengarnya
adalah suara orang-orang-orang yang merintih-rintih, bermimpi, mengigau,
dan bau-bau yang tidak enak bagi hidungnya yang telah tua dan keriput itu.
Setiap juru rawat masuk ke kamarnya nenek itu selalu bertanya, kapan dia
boleh keluar?
Suatu saat seorang juru rawat membisikkan di telinganya dengan suara
hati-hati bahwa semua cucunya dan si babu telah meninggal dunia
“Si babu juga?” tanyanya cemas.
“Ya. Dia juga meninggal dunia.”
“Oh, dengan siapa lagi saya akan tinggal?” tanyanya sedih.
“Dengan kami.”
Sore itu seorang juru rawat mengantarnya ke pekuburan, di mana
cucu-cucunya seluruhnya dikuburkan dan juga di mana si babu ikut tertimbun
dengan tanah-tanah itu. Perempuan tua itu menangis tersedu-sedu hingga
juru rawat itu payah sekali membujuknya untuk pulang.
Kini, perempuan tua itu dengan matanya yang tua itu mencoba
melihat ke sekeliling, dan dengan pandangan tuanya ia tidak melihat
setumpak pun tanah yang kosong.
“Sudahlah, Nek. Jangan menangis lagi. Mari pulang,” ajak perempuan
muda itu.
Perempuan tua itu menjawab: “Saya sedih sekali, Nak.”
“Kenapa? Bukankah mereka sudah selamat dikuburkan?”

“Bukan itu. Bukan itu. Saya sedih di mana saya akan dikuburkan
nanti? Semua tanah itu sudah penuh. Saya sudah menjual ringgit emas
pemberian suamiku, dan telah kubeli tanah ini untuk kuburan saya, tapi
sekarang mereka yang memakai tanah ini buat kuburan mereka.”
“Di mana lagi, coba, tanah untuk saya?” sambung si nenek itu. “Semua
sudah terisi. Waktu hidupnya, mereka cuma memberiku tiga buah jeruk, itu
pun jeruk-jerukku, dan waktu mati.”
“Sudahlah, Nek, mari kita pulang.”
“Saya tidak akan pulang.”
Dan perempuan tua itu dengan tersedu-sedu berkatalah lagi:”Cobalah
kaupikir, Nak, di mana saya akan dikuburkan. Tanah-tanah di sini semua
sudah terisi!”
Dan perempuan muda itu tidak dapat menjawabnya.
Dan perempuan tua itu melihat dengan mata tuanya lagi, ke sekeliling.
Dan pandang tuanya yang sudah layu itu tidak menangkap lagi setumpak
pun tanah yang kosong.
Ketika itulah air matanya berjalan pelan-pelan, dari pinggir pelupuk
matanya ke daging-daging pipinya, seperti seorang tua berjalan pelan-pelan
di pinggir tebing menuruni sebuah lembah.
Sastra
No. 7, Th. I. November 1961
Cerpen Indonesia III, 1986:88-94)

Selasa, 11 Agustus 2015

Rekaman Audio Cerpen Sungai Karya Nugroho Notosusanto

oleh: Hari Untung Maulana

Jika Anda membutuhkan rekaman audio pembacaan cerpen.
monggo, di download.

Ini suara asli saya lho

direkam pakai hape sejuta umat nokia e63
sekali rekam tanpa edit
tapi insya Allah jelas buat materi menganalisis cerpen yang dibacakan.




ini cerpennya:

Sungai

Setiap kali menyeberangi sungai, Sersan Kasim merasakan sesuatu keharuan yang mendenyutkan jantungnya. Seolah-olah ia berpisah dengan sesuatu, sesuatu dalam hidupnya. Makin besar sungai itu, makin besar pula keharuan yang menggetarkan sanubarinya.

Kini, kembali ia akan menyeberangi sebuah sungai. Sekali ini bukan sungai kecil, melainkan salah satu sungai yang terbesar di Jawa Tengah, Sungai Serayu.

Sersan Kasim adalah Kepala Regu 3, Peleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di Jawa Barat. Tentara Belanda telah menduduki Yogya, persetujuan gencetan senjata telah dilanggar, dan Republik tidak merasa terikat lagi oleh perjanjian yang sudah ada.

Jam satu malam cuaca gelap gulita dan murung, hujan turun selembut embun namun cukup membasahkan. Hati-hati Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing yang curam dan licin. Ia sendiri berjalan dengan sangat hati-hati, menggendong bayi pada panggulnya sebelah kiri. Dari bahu kanan bergantung sebuah sten. Hanya samar-samar matanya yang terlatih melihat orang yang berjalan di depannya. Untuk memudahkan penglihatan, tiap-tiap prajurit yng kurang baik penglihatannya, memasang sepotong cendawan yang berpijar pada punggung kawan yang berjalan di depannya.

Sepuluh bulan yang lalu, pada bulan Februari 1948, Sersan Kasim juga menyeberangi Sungai Serayu dengan kompinya. Tatkala itu mereka berjalan ke arah timur. Persetujuan Renville telah ditandatangani dan pasukan-pasukan TNI harus hijrah ke kantong-kantong dalam wilayah de facto Belanda. Banyak diantara bintara dan prajurit yng membawa serta anak istrinya.

Ketika itu Sersan Kasim telah setengah tahun menikah. Istrinya yang belia sudah lima bulan mengandung. Namun, ia memaksa mengikuti suaminya ke wilayah kekuasaan Republik. Pernah terpikir oleh Kasim untuk menitipkan istrinya kepada mertuanya di Pager Ageung. Tapi tidak sempat, lagipula Aminah tidak mau ditinggalkan. Ia bersitegang hendak ikut. Dan siapa yang dapat bertahan terhadap sifat keras kepala wanita yang sedang mengandung?

Dua bulan setelah mereka tiba di Yogya, Acep dilahirkan. Matanya hitam tajam, meskipun badannya sangat kecil, dan rambutnya lebat seperti hutan di Priangan. Tapi untuk melahirkan anaknya, Aminah telah menggunakan sisa-sisa tenaga rapuhnya yang terakhir. Ia meninggal sehari kemudian karena kepayahan. Acep dapat dipertahankan hidupnya berkat rawatan khusus para dokter dan juru rawat di rumah sakit tentara.

Kini Sersan Kasim berjalan kembali ke Jawa Barat. Kali ini jarak antara Yogya dan Priangan Timur harus mereka tempuh dengan berjalan. Tidak ada truk Belanda yang mengangkut, tidak ada kereta api Republik yang menjemput. Mereka berjalan kaki, menempuh jarak lebih dari 300 kilometer, turun lembah, naik gunung, menyeberangi sungai kecil dan besar.

Akhirnya mereka kembali di tepian Sungai Serayu, akan tetapi jauh kesebelah hulu, di kaki pegunungan daerah Banjarnegara. Kini tiada jembatan, tiada titian. Mereka harus terjun ke dalam air.

Perlahan-lahan Sersan Kasim menuruni tebing yang curam. Ia menggigil dilanda angin pegunungan dari sebelah lembah. Dengan cermat ia perbaiki letak selimut berlapis dua yang menutupi Acep dalam gendongan. Acep, biji matanya, harapan idamannya. Kemudian, dengan satu gerakan ia usap air hujan pada wajahnya sendiri. Ia menggigil lagi. Iring-iringan sekonyong-konyong berhenti. Prajurit di depannya juga menggigil. Mereka menggigil berdekat-dekatan.

Kemudian ada pesan dari depan.
“Kepala Regu, kumpul!” dibisikkan dari mulut ke mulut. Kasim berjalan ke muka. Komandan Peleton sudah menanti di depan Regu I. Mereka menerima instruksi mengenai penyeberangan.

Menurut intelligence, musuh menjaga tepian sana dengan kekuatan satu kompi. Sungai diawasi mulai bagian yang airnya setinggi perut. Karena itu pasukan akan menyeberangi lebih ke hilir. Ada kemungkinan air mencapai dada. Perintis telah menyiapkan tali untuk berpegangan.

”Ada pertanyaan?” tanya Komandan Peleton.
Tidak ada yang menyahut. Samar-samar Sersan Kasim melihat pandangan Komandan tertuju kepadanya.
”Bagaimana bayimu?” tanya Komandan.
“Tidur Pak,” jawab Kasim singkat.
”Kalau pikiranmu berubah, masih ada waktu untuk menitipkannya pada barisan keluarga.”

Kasim tak segera menjawab. Sebentar pikirannya melayang kepada para wanita dan kanak-kanak yang dititipkan kepada Pak Lurah dan penduduk Karangboga. Kalau situasi aman, mereka akan diseberangkan sedikit demi sedikit oleh rakyat. Mereka akan dijemput oleh satu regu di seberang sungai setelah
diberitahu oleh kurir.

”Sersan Kasim tinggal. Lainnya bubar!” kata Komandan menembus kesepian. Kepala regu lainnya kembali kepada anak buahnya.

Lagi Kasim merasa pandangan mata Komandan tertuju kepadanya dan kepada anaknya. Kasim tahu apa arti pandangan itu. Ya, ia tahu sebenarnya Komandan ingin bertanya, apakah ia menyadari bahwa tangisan seorang bayi dapat membawa kebinasaan bagi lebih dari seluruh kompi. Bahwa bayinya, si Acep, dapat mmbahayakan jiwa lebih dari seratus orang prajurit. Itulah yang tersirat dalam pandangan Komandan.

Pandangan Komandan itu seolah-olah berkata, ”Ingatlah Kompi 3 batalyon B yang kehilangan 16 prajurit dan 10 keluarga, karena serangan mendadak oleh musuh. Hanya karena seorang bayi yang menangis. Tangis yang dengan cepat menular pada beberapa anak kecil lainnya”.

Samar-samar Sersan Kasim mendengar derau sungai di bawah. Dia bayangkan kesunyian malam yang aman dirobek-robek oleh letusan senjata. Dia bayangkan kompinya terjebak di tengah-tengah sungai, tak berdaya.
Tatkala itu Acep bergerak-gerak dalam gendongan bapaknya. Kasim merasa anaknya menyusup-nyusupkan kepala ke dadanya, ke ketiaknya, seakan-akan mencari perlindungan yang lebih aman. Rasa sayang membual keluar dan menyesakkan kerongkongan Kasim. Anakku yang tak sempat mengenal ibunya, pikirnya. Anakku yang disusui oleh botol. Dan kini dia harus dititipkan pada orang lain! Untuk berapa lama? Dan amankah dia dalam asuhan orang lain? Akan selamatkah dibawa orang asing dalam penyeberangan nanti? Anak lelaki titipan satu-satunya, pusat rasa yang sehalus-halusnya, peninggalan istri yang setia dan keras hati. Cucu yang akan dibawanya sebagai oleh-oleh untuk orang tuanya di Garut, untuk mertuanya di Pager Ageung, sebagai tanda mata anak dan menantu dari istrinya tercinta yang telah meninggal.

Sersan Kasim membelai anaknya yang dalam gendongan, ”Saya minta izin untuk membawanya,” katanya.
”Kau yakin dia tidak menangis?”
”Insya Allah, tidak.”
”Baik kalau begitu. Hati-hati saja.”
”Siap Pak. Terima kasih.”

Ketika giliran peletonnya untuk menyeberang, Kasim menggigil lebih keras lagi. Bukan hanya karena hujan tambah keras turun. Bukan hanya karena angin pegunungan yang menembus sela-sela rusuknya. Ia juga menggigil karena Acep mulai resah dalam gendongannya. Air hujan sudah merembes masuk mengenai kulitnya dan ia menggeliat-geliat kebasahan dan kedinginan.

Sersan Kasim mulai memegang tali yang terentang dari tepi ke tepi. Air membasahi kakinya, membasahi celananya, membasahi sebagian bajunya, menjilat-jilat gendongan anaknya. Ia mulai repot meninggikan anak dan senjatanya bersama-sama. Pada suatu saat ia terperosok ke dalam lubang pada alas sungai dan ia terhuyung-huyung dilanda arus yang deras dan dingin. Air mencapai dada, merendam anaknya. Dan tiba-tiba Acep menangis....

Acep menangis.
Melolong-lolong.
Merobek-robek kesunyian malam dari tebing ke tebing. Suaranya tajam menyayat hati. Menyayat hati bapaknya, hingga sesak bagaikan tak dapat bernapas.

Di hulu sungai, sebuah peluru kembang api ditembakkan ke udara. Malam jadi terang-benderang. Seluruh kompi menahan napas. Masing-masing terpaku pada tempatnya. Peleton 1 di seberang sana. Peleton 3 di seberang sini, sedangkan Peleton 2 di tengah-tengah sungai. Di tengah-tengah Peleton 2 itulah Acep menangis pada dada bapaknya.

Tak ada orang yng mengetahui dengan pasti, apa yang terjadi dalam beberapa menit, yang terasa seperti berjam-jam. Juga Sersan Kasim tidak sadar. Ia hanya tahu anaknya menangis, setiap saat musuh dapat menumpas mereka dengan senapan mesin dan mortir di bawah peluru cahaya kembang api yang telah mereka tembakkan. Seluruh kompi memandang kepada dia, bergantung kepada dia. Nasib seluruh kompi tertimpa pada bahunya.

Sejurus kemudian suara Acep meredup. Sesaat lenyap sama sekali.
Sunyi turun kembali ke bumi, berat menekan di dada sekian puluh lelaki yang jantungnya berdegup seperti bedug ditabuh bertalu-talu. Kembang api di langit mulai mati, dan kelam mulai menyelimuti kembali suasana di lembah sungai itu. Kini yang terdengar hanya derau air yang tak putus-putusnya ditingkahi oleh kwek-kwek katak di tepian. Beberapa menit kemudian kompi menghela napas lega dan selamat tiba di seberang.

Keesokan harinya, pada waktu fajar merekah, kompi menunda perjalanannya sementara waktu, meskipun masih terlalu dekat kepada kedudukan musuh. Mereka berhenti pada sebuah desa. Dengan bersama Pak Lurah dan banyak diantara penduduk, mereka berkumpul di pinggir desa. Di sana, dalam upacara yang singkat, Acep diturunkan ke liang kubur. Kemudian semua mata tertuju kepada sosok tubuh Sersan Kasim yang berjongkok di hadapan pusara kecil yng baru ditimbun. Kepalanya terkulai, menunduk.

Akhirnya, ia berdiri dan memandang ragu-ragu sekeliling. Kesedihan yang dalam, jelas terukir pada wajahnya. Baju seragamnya tampak kuyup, hingga lehernya. Komandan kompi tampil ke muka. Ia menghampiri Kasim. Ia menggenggam tangan kanan sersannya dalam kedua belah tangan. Matanya merah, tidak hanya kurang tidur. Dalam angan-angannya terbayang Nabi Ibrahim, yang siap mengorbankan putranya. Tapi ia tak berkata apa-apa.

Setengah jam kemudian, kompi melanjutkan perjalanannya pada punggung bukit yng sejajar dengan tebing sungai. Matahari telah naik, menghalau kabut kemana-mana, memanasi bumi yang lembap oleh hujan semalam. Ditengah-tngah barisannya Sersan Kasim berjalan dengan sten tergantung sunyi pada bahunya. Jauh di bawah, di lembah yang dalam, Sungai Serayu sayup-sayup menderau. Keharuan yang luar bisa kini meluap-luap dalam dada Sersan Kasim, membanjir, menghanyutkan. Dan ia berjalan terus.
Dan di bawah, sungai mengalir terus.

Puisi Tentang Narkoba atau Narkotika



SURAT DARI ALAM ARWAH
Karya: ABDUL RAHMAN SALEH

Hakim, Jaksa, dan Polisi
Yang kami hormati

Namaku Eddy
umurku dua puluh tahun
aku mati
karena addiksi

Atau aku ini Tuty
Cantik dan seksi
Delapan belas tahun
Ketika heroina
Menggiring aku
ke liang fana

atau aku berjuta
generasi muda mati sia-sia
mengejar mimpi di telikung kokaina
di jalan-jalan Jakarta 
di tempat-tempat lain
kota-kota kita 
lorong-lorong khayali
tangis ibu dan bapak kami

Ibu dan Bapak serta teman kami
Masih menangisi nasib
Apa yang mengantar
Kami ke kubur abadi

Rasanya baru kemarin

Bapak dan ibu memomong
Mencium kening kami
Ketika bangun pagi hari

Dan merenung, Ketika mereka tua …
Ada tangan-tangan kekar putra-putrinya
Membimbing kakinya
Menyeberang jalan atau Pergi ke Mekkah

Tapi sekarang kami di sini,
Di kuburan dangkal dalam nasib tak pasti
Karena overdosis Dan addiksi

Orang tua kami menyesali diri
Berkali-kali memukuli tembok Dan ratapan hati
Dosa apa Tuhan,
Menghancurkan keluarga kami
Padahal sebenarnya,
Kami menghukum diri kami sendiri


Bapak, ibu hakim, jaksa dan polisi
Atas dasar hak moralitas apa
Anda semua masih saja membebaskan para pengedar, bandar, dan musuh generasi muda?

Tidakkah bapak-ibu takut Pada balasan Tuhan
Putra-putri bapak ibu jadi korban penyalahgunaan
Dan mati di wc-wc umum Dan di jalan-jalan

Kebahagiaan dunia maya
Harta tak halal yang bapak ibu terima 
Tak ada artinya
dibanding nasib berjuta generasi muda
dilibas narkotika

siapa tahu nanti akan ada 
anak cucu bapak ibu juga

atas dasar logika mana 
Anda semua masih saja bermain mata
membalik-balik kata serta pasal-pasal
dari bandar ke pengedar
dari pemakai berubah jadi korban

Seorang pengedar hari ini
akan jadi predator jutaan anak bangsa
dan ratusan ribu  keluarga Indonesia

Surat ini ditulis dari balik kuburan
Alam arwah yang gelap dan nestapa
Dari Eddy, Tuty, Rini, generasi muda Indonesia
Yang terlanjur binasa

Bapak Ibu Hakim, Polisi dan Jaksa
Semoga anda semua
Masih dapat kesempatan kedua
Sedang kami sekarang
Bisa didekap sia-sia
Hanya surat yang bicara bersuara
Memanggil-manggil
Kesadaran kita semua

Abdul Rahman Saleh adalah Jaksa Agung RI tahun 2004 s.d. 2007. 


Jumat, 07 Agustus 2015

Memberikan Kejutan Untuk Anak Anda

oleh: Hari Untung Maulana

Di rumah Anda ada komputer, printer, dan jaringan internet?
kenapa tidak dimaksimalkan fungsinya
selain untuk pekerjaan kantor... ketiga hal di atas juga bisa digunakan untuk memberikan kejutan untuk anak Anda.

Sambil mengerjakan tugas kantor di rumah, tidak ada salahnya Anda googling permianan-permainan mendidik yang bisa di download atau di save.
permainan yang kita cari bukan permainan digital lho, tapi permainan kertas.
dari pada beli, sebenarnya kita bisa cari di internet
buanyak banget...

1. Buku Mewarnai
Setelah menyelesaikan tugas kantor, asyik banget kan kalo Anda memanggil buah hati Anda dan memberikan kertas HVS yang berisi gambar-gambar yang siap diwarnai.
Anda tinggal cari di google dengan kata kunci coloring paper, coloring book, dan coloring pages. lalu buka images/gambar...


 Kalau sudah nemu, tinggal klik kanan dan 'Save Image As...'

Ini hasil gambarnya


2. Mencari Perbedaan Gambar

Hampir sama dengan nomor satu di atas,
berikutnya adalah mencari gambar untuk anak kita belajar ketelitian
yaitu dengan mengetikkan kata kunci "find the difference pictures" di pencari google

Ini contoh gambarnya



tinggal klik kanan, dan Save Image As...

3. Mencari Gambar Tersembunyi

Untuk melatih ketelitian dan kesabaran anak, serta untuk memperkenalkan berbagai macam bentuk benda, maka Anda bisa memberikannya tantangan untuk mencari gambar yang tersembunyi.

Tidak perlu beli, copas dari internet ajah banyak kok

dengan mengetikkan kata kunci "Find Hidden Object Pictures" di mesin pencari google, dijamin, langsung keluar dan siap di "Save Image As"

Nih, contohnya:


 Kalau sudah ketemu, bisa diwarnai deh. Anda juga harus menerangkan nama dan fungsi benda yang dicari ya...

4. Origami
Buku petunjuk origami banyak dijual di tokok buku, 
Aih, ngapain beli....
copas ajah dari internet
dengan mengetikkan kata kunci "Origami", Anda tinggal sedot berbagai petunjuk membuat origami yang menyenangkan dan mudah untuk putra putri Anda.

ini nih contohnya



5. Gunting, Lem, Tempel
 Kegiatan yang satu ini juga menyenangkan untuk anak-anak kita
memang sih, kalau mencari di toko buku, jenis kertas yang digunakan biasanya lebih tebal
Tetapi, kalau cuma buat latihan gunting, tempel, lem saja... bisa aja sih kalau cuma mau pakai kertas HVS
atau ya kalau mau tebal, diprintnya di kertas karton

kata kunci yang bisa ditik di mesin pencari google adalah "Papercraft",
Buanyaaaak buanget gambar yang bisa di "Save Image As"

kayak gini nih contohnya:



SELAMAT BERSENANG-SENANG 
DENGAN PUTRA PUTRI ANDA