Senin, 24 November 2025

Gerbong Harapan di Ujung Malam

oleh: Hari Untung Maulana

Asap dari ujung sigaretnya menari tipis di udara malam yang lembap, lalu lenyap ditelan kegelapan. Marni membuang napas, lebih berat dari asap yang baru saja ia lepaskan. Bedak tebal di wajahnya terasa kaku, topeng yang mulai retak oleh peluh dan resah yang tak kunjung surut. Ia duduk di atas balok kayu lapuk, bersandar pada dinding dingin gerbong kereta yang telah lama mati. Tempat ini adalah dunianya setelah senja: sudut terpencil yang terpisah dari riuh jalan raya, di mana satu-satunya teman adalah gigitan nyamuk dan segumpal harapan yang kian menipis.

Satu jam. Dua jam. Puntung rokok kedua kini menyusul yang pertama, terinjak sekarat di atas tanah berbatu. Janji temu dengan seorang "tuan" yang ia kenal lewat perantara temannya terasa semakin hampa. "Orangnya baik, Marni. Kantongnya tebal," begitu kata temannya siang tadi. Harapan akan kantong tebal itulah yang membuatnya merias wajah lebih saksama, menyemprotkan parfum murah yang menyengat, dan mengabaikan sakit di ulu hatinya.

"Kapankah datang, tuan berkantong tebal?" bisiknya pada angin malam. Setiap deru motor yang mendekat membuat jantungnya berdebar, namun setiap kali pula suara itu menjauh, meninggalkan sunyi yang lebih menusuk.

Dalam diamnya, bayangan dua wajah mungil melintas. Bima, putranya yang berusia delapan tahun, dan Ayu, si bungsu yang baru lima tahun. Tadi sore, saat ia pamit pergi, Bima bertanya dengan mata polosnya, "Ibu kerja lagi? Besok Bima bisa makan pakai telur, Bu?"

Pertanyaan itu kini kembali, bergaung di kepalanya, menjadi jerit bimbang yang merobek ketenangannya. Apakah esok hari anak-anakku dapat makan? Getir saliva terasa memenuhi kerongkongannya. Ia menelan ludah, berusaha mengusir bayangan wajah lapar anak-anaknya. Tangan yang tadi menjepit rokok kini terkepal erat di pangkuan.

Habis sudah batang ketiga, namun tuan itu belum juga datang. Harapan kini berganti cemas, lalu pelan-pelan merayap menjadi putus asa. Di sudut tergelap hatinya, Marni merasa begitu kecil, begitu sendirian. Ia menengadahkan wajahnya ke langit pekat tanpa bintang. Tak ada siapa-siapa lagi yang bisa ia ajak bicara.

"Oh, Tuhan..." lirihnya, suara serak menahan isak. Doa itu mengalir begitu saja, bukan dari bibir yang bergincu merah pudar, melainkan dari jiwa yang lelah. "Beri setetes rezeki untuk malam ini saja. Hanya untuk besok pagi."

Ia tidak meminta kekayaan. Ia hanya memohon agar perut kedua malaikat kecilnya di rumah kontrakan sempit itu bisa terisi. "Beri terang jalan anak hamba, ya Tuhan. Jalan manapun yang harus kutempuh, asal mereka selamat."

Air mata akhirnya luruh, mengukir jejak di atas bedak tebalnya, menelanjangi semua kepalsuan yang ia kenakan. Ia tak lagi peduli pada riasan yang berantakan. Ia hanya seorang ibu yang ketakutan.

Di tengah isaknya yang tertahan, sebuah suara serak dan tua menyapanya.

"Neng, belum pulang?"

Marni tersentak. Seorang kakek tua, penjaga warung kelontong di ujung gang, berdiri tak jauh darinya sambil membawa tumpukan kardus. Pak Tua, begitu orang-orang memanggilnya. Wajahnya yang keriput menatap Marni dengan sorot yang sulit diartikan—bukan menghakimi, melainkan iba.

Marni cepat-cepat menyeka air matanya. "Belum, Pak. Sedang menunggu." Jawabannya terdengar lemah.

Pak Tua mengangguk pelan, seolah mengerti tanpa perlu penjelasan lebih. Ia meletakkan kardusnya, lalu berjalan mendekat dan menyodorkan sebuah bungkusan plastik. "Ini, Neng. Tadi ada sisa nasi sama ayam goreng dari warung. Buat anak-anak di rumah."

Marni terpaku. Ia menatap bungkusan di tangan Pak Tua, lalu beralih ke wajah renta itu. Ia ingin menolak, malu, namun kehangatan dari bungkusan itu seolah menjalar ke telapak tangannya, menawarkan jawaban yang tak pernah ia duga.

"Saya... saya tidak punya uang, Pak," ucapnya terbata.

Pak Tua tersenyum tipis. "Rezeki bukan cuma soal uang, Neng. Anggap saja ini rezeki anak-anakmu malam ini. Sudah, ambil saja. Bapak mau tutup warung."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Pak Tua meletakkan bungkusan itu di samping Marni, lalu berbalik dan berjalan menjauh, menghilang di kelokan gang.

Marni memandangi bungkusan itu. Isaknya pecah, namun kali ini bukan karena keputusasaan. Di sudut gerbong yang tak terpakai, di tengah malam yang paling kelam, doanya dijawab. Bukan melalui tuan berkantong tebal yang tak kunjung datang, melainkan melalui sebungkus nasi hangat dari tangan seorang kakek tua.

Ia memeluk bungkusan itu erat-erat. Malam masih dingin, nyamuk masih berdengung, dan masa depan masihlah sebuah tanda tanya besar. Namun untuk malam ini, setetes rezeki itu telah tiba.

Dengan langkah yang terasa lebih ringan, Marni bangkit. Ia membuang sisa harapan palsunya bersama puntung rokok terakhir, dan berjalan pulang membawa jawaban nyata atas doanya. Di dalam hatinya, sebuah bisikan syukur menggema.

"Kabulkanlah, Tuhan."

Dan Tuhan telah mengabulkannya.

==============

terinspirasi dari lagu: DOA PENGOBRAL DOSA

Song and Lyric : IWAN FALS

Umpan Terakhir di Bawah Jembatan

oleh: Hari Untung Maulana

Deru kendaraan di atas jembatan terdengar seperti geraman raksasa yang tak pernah tidur. Di bawahnya, di kolong yang remang dan berbau tanah basah, Leo melangkah dengan hati-hati. Kakinya terperosok di lumpur dangkal, tapi ia tak peduli. Di genggaman tangannya yang berkeringat, sebuah botol kecil berwarna cokelat terasa berat, jauh lebih berat dari isinya. Ini adalah akhir dari segalanya. Tempat ini sempurna: tersembunyi, terlupakan, sama seperti dirinya.

Ia mencari sudut yang paling gelap untuk menuntaskan urusannya, ketika matanya menangkap sebuah siluet. Di tepi sungai yang mengalir lesu, seorang lelaki tua duduk di atas bangku lipat reyot. Sebuah joran pancing terpasang di depannya, ujungnya menukik ke air yang keruh.

Leo mengumpat dalam hati. Dari sekian banyak kolong jembatan di kota ini, kenapa harus ada orang di sini? Kenapa harus ada saksi untuk keputusasaannya?

"Sedang apa, Pak?" tanya Leo, suaranya lebih ketus dari yang ia niatkan.

Lelaki tua itu menoleh perlahan. Wajahnya berkerut, matanya teduh. Ia tidak tampak terkejut. "Mancing, Nak. Mau coba peruntungan."

"Dapat?"

Lelaki tua itu tersenyum tipis. "Belum. Tapi di situlah seninya. Menunggu."

Leo mendengus. Menunggu. Ia sudah lelah menunggu. Menunggu keajaiban, menunggu utang lunas, menunggu hidup membaik. Tak ada yang datang. Yang tersisa hanya botol kecil di tangannya. Ia duduk beberapa meter dari si pemancing, sengaja membelakanginya. Getar di tangannya semakin menjadi.

"Airnya tenang hari ini," kata si pemancing lagi, memecah keheningan yang canggung. "Biasanya kalau tenang begini, ikan gabus suka keluar."

"Saya tidak peduli ikan," sahut Leo tajam.

"Tentu saja," jawab lelaki tua itu dengan sabar. "Anak muda sepertimu pasti punya urusan yang lebih penting dari ikan."

Leo terdiam. Urusan penting. Ya, urusan untuk mengakhiri semua urusan. Ia membuka tutup botol itu. Bau kimia yang menyengat langsung menusuk hidungnya, membuatnya sedikit mual.

"Tapi kadang," suara si pemancing kembali terdengar, "urusan serumit apa pun, kalau kita diam sejenak dan melihat air, semuanya terasa lebih ringan. Air ini membawa semuanya ke laut. Sampah, daun kering, bahkan mungkin masalah kita."

Leo berhenti. Tangannya yang sudah siap mengangkat botol ke bibir tertahan di udara. Ia melirik lelaki tua itu. "Bapak tidak tahu apa-apa tentang masalah saya."

"Benar. Bapak tidak tahu," aku lelaki itu. "Bapak hanya tahu, seekor ikan sekecil apa pun akan berjuang sekuat tenaga saat kail menyangkut di mulutnya. Ia meronta, melawan, tidak mau menyerah begitu saja. Padahal ia hanya seekor ikan."

Ada sesuatu dalam nada bicara lelaki tua itu—bukan menghakimi, bukan menasihati, hanya sebuah pengamatan sederhana—yang menembus dinding pertahanan Leo. Ia perlahan menurunkan botol itu dan meletakkannya di tanah.

"Untuk apa berjuang kalau pada akhirnya tetap kalah?" desis Leo, lebih pada dirinya sendiri.

Si pemancing menggulung sedikit senarnya. "Siapa yang tahu soal kalah dan menang, Nak? Tugas kita kan hanya berjuang. Soal hasil, itu urusan yang di Atas." Ia menunjuk langit dengan dagunya, yang tak terlihat dari kolong jembatan itu.

Hening kembali menyelimuti mereka, hanya dipecah oleh suara air dan deru lalu lintas di atas. Lelaki tua itu membuka termosnya dan menuangkan kopi ke dalam cangkir plastik.

"Mau?" tawarnya.

Leo ragu sejenak, lalu mengangguk. Ia bergeser mendekat dan menerima cangkir kopi panas itu. Kehangatannya menjalar ke telapak tangannya yang dingin. Mereka duduk berdampingan dalam diam, memandangi ujung joran yang tak bergerak. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Leo merasakan sebuah ketenangan. Mungkin lelaki tua ini benar. Mungkin masih ada harapan. Mungkin ia hanya perlu menunggu sedikit lebih lama.

Pikiran untuk membatalkan niatnya mulai bersemi. Ia bisa membuang botol itu ke sungai, pulang, dan mencoba lagi esok hari.

Tiba-tiba, joran si pemancing bergetar hebat. Ujungnya melengkung tajam. "Wah, dapat!" serunya dengan binar di mata tuanya.

Ia berdiri dan menarik jorannya dengan sigap. Pertarungan singkat terjadi. Air beriak kencang, lalu seekor ikan gabus yang lumayan besar berhasil diangkat ke darat. Ikan itu menggelepar hebat di tanah berlumpur, sisiknya yang gelap berkilat di cahaya remang. Mulutnya membuka dan menutup, insangnya bergerak cepat, berjuang untuk setiap tarikan napas.

Lelaki tua itu tersenyum puas. Ia mengambil ikan itu, melepaskan kail dari mulutnya dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam keranjang anyaman yang sudah terisi beberapa ikan lain yang lebih kecil.

Leo menyaksikan semua itu dengan napas tertahan. Ia melihat ikan-ikan di dalam keranjang itu. Mereka tidak lagi meronta. Mereka hanya terdiam pasrah, bertumpukan satu sama lain, menunggu ajal. Mereka telah berjuang sekuat tenaga, dan pada akhirnya inilah takdir mereka: masuk ke dalam keranjang, lalu ke dalam wajan penggorengan.

Perjuangan mereka sia-sia.

Kilat pemahaman yang dingin dan mengerikan menyambar pikiran Leo. Harapan yang baru saja mekar di hatinya layu seketika. Ia adalah ikan itu. Ia sudah berjuang, meronta, dan melawan sekuat yang ia bisa. Dan kini ia sudah sampai di ujungnya. Di dalam keranjang takdirnya.

Si pemancing masih sibuk membereskan alatnya, wajahnya berseri-seri karena tangkapan besarnya. Ia tidak menyadari perubahan di wajah Leo.

"Terima kasih kopinya, Pak," ucap Leo dengan suara yang anehnya terdengar tenang.

"Sama-sama, Nak. Ingat..."

Sebelum lelaki tua itu menyelesaikan kalimatnya, Leo dengan satu gerakan cepat meraih botol cokelat di sampingnya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menenggak seluruh isinya hingga tetes terakhir.

Lelaki tua itu terperanjat, matanya membelalak ngeri. "Nak! Apa yang kau lakukan?!"

Leo tersenyum getir, cairan racun itu sudah membakar kerongkongannya. Ia menunjuk keranjang ikan dengan sisa tenaganya.

"Pada akhirnya... semua perjuangan... ada batasnya, Pak," desisnya, sebelum tubuhnya kejang dan ambruk ke tanah yang basah.

Si pemancing hanya bisa terpaku. Di hadapannya, tergeletak tubuh seorang anak muda yang telah kalah. Di sampingnya, sebuah keranjang berisi ikan-ikan yang juga telah kalah. Di atas kepalanya, deru kendaraan terus meraung, tak peduli pada satu lagi perjuangan yang baru saja berakhir di kolong jembatan. Joran pancingnya teronggok diam, umpannya sudah habis.

----

Lautan Sunyi, Dermaga Usang

oleh: Hari Untung Maulana

Ayah

Dermaga itu menua bersamaku. Tiang-tiangnya keropos, kayunya menghitam di makan waktu dan air asin. Setiap senja, aku duduk di bangku reyot ini, memandang ke cakrawala yang selalu menelan matahari dengan janji palsu esok. Tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun sejak kau pergi, Nak. Rambutku memutih, punggungku membungkuk, dan mataku yang dulu tajam kini hanya mampu menangkap bayangan kerinduan. Kau anak tunggalku, satu-satunya permata yang kutempa dengan peluh dan doa. Ingatkah kau, dulu kau selalu berlari menyambutku pulang dari laut, tangan kecilmu menggenggam erat jariku yang kasar? Kau bilang, "Ayah, aku ingin berlayar lebih jauh dari Ayah!" Dan kau benar. Kau berlayar, jauh sekali. Terlalu jauh.

Botol arak ini adalah teman setiamu kini, jantungku. Isinya panas, tapi tak mampu menghangatkan dinginnya hatiku yang membeku. Orang-orang bilang kau sukses di negeri seberang, Nak. Mereka bilang kau sudah lupa pada ayah tua ini, pada gubuk reyot ini, pada dermaga yang selalu menunggumu. Aku tak percaya. Aku tak mau percaya. Seorang anak yang kutimang dengan segala kasih sayang, tak mungkin sekejam itu. Pasti ada alasannya, Nak. Pasti. Tapi alasan apa yang mampu menjelaskan keheningan yang memekakkan ini? Setiap kapal yang merapat, setiap wajah pelaut yang turun, selalu kuharap itu wajahmu. Selalu. Dan setiap kali pula, aku pulang dengan hampa, membawa serta kecewa yang mengoyak-ngoyak sisa hidupku. Apakah kau masih mengingat bau laut ini? Bau yang membesarkanmu, bau yang kini hanya menyisakan aroma pilu.

Anak

Garam. Bau amis. Peluh. Itu saja yang ada. Di lambung kapal yang berkarat, di tengah lautan yang tak bertepi, aku adalah budak. Namaku tak lagi penting. Aku adalah 'dia'. 'Dia' yang harus menarik jaring hingga tangan melepuh, 'dia' yang harus bekerja tanpa henti di bawah cambuk dan makian, 'dia' yang harus makan sisa-sisa busuk agar tetap hidup. Dua puluh tahun. Dua puluh tahun sejak kaki ini menginjak tanah asing yang dijanjikan sebagai surga. Surga pekerjaan, surga uang. Tapi yang kudapatkan adalah neraka.

Malam ini, badai kembali datang. Ombak menjulang setinggi rumah, memecah lambung kapal seolah ingin menelannya bulat-bulat. Aku terikat pada tiang, mencoba bertahan agar tidak terlempar ke air yang siap menelan. Dingin menembus tulang, perih mengoyak kulit. Aku ingat Ayah. Wajahnya yang keriput, tangannya yang kasar tapi selalu lembut membelai rambutku. Ayah, maafkan aku. Aku berjanji akan menjemputmu, Ayah. Aku berjanji akan mengirimimu uang agar kau tak perlu lagi memancing di dermaga tua itu. Tapi janji itu kini hanya hantu, bergentayangan di antara gelombang yang mengganas.

Setiap kali jaring ditarik, setiap kali ikan-ikan perak berloncatan, aku melihat wajah Ayah di pantulan air. Ayah yang selalu bangga padaku, Ayah yang menaruh semua harapannya padaku. Harapan itu kini tenggelam, seiring dengan matahari yang tak pernah kulihat terbit dari tempat yang sama. Di sini, matahari hanya muncul untuk menyiksa, lalu menghilang tanpa jejak, meninggalkan kegelapan yang abadi. Bagaimana aku bisa kembali, Ayah? Bagaimana aku bisa menunjukkan wajah yang sudah hancur ini, jiwa yang sudah remuk ini? Mereka bilang aku sudah mati. Dan kadang, aku berharap itu benar.

Ayah

Kadang, aku melihat bayanganmu di antara ilalang yang bergoyang. Rambutmu yang dulu ikal, tawamu yang renyah, cara kau menatap laut dengan mata penuh cita-cita. Aku merangkak, mendekat, memanggil namamu. "Nak! Pulanglah, Nak!" Tapi ilalang itu hanya bergoyang, menertawakan kebodohanku. Kau bukan di sana. Kau jauh. Atau mungkin, kau memang tak pernah ada lagi. Aku hanya berpegangan pada kenangan, pada potongan-potongan suara dan tawa yang sudah pudar.

Tetangga sebelah, Mang Ujang, meninggal kemarin. Meninggal dengan senyum karena anak-anaknya semua ada di sampingnya. Aku iri. Iri sampai rasanya ingin menangis darah. Aku ingin merasakan sentuhan tanganmu lagi, Nak. Ingin kudengar suaramu memanggil "Ayah". Sekali saja. Sebelum mataku tertutup untuk selamanya. Tapi hanya dingin yang kurasakan. Dinginnya bangku dermaga, dinginnya cangkir arak, dinginnya harapan yang tak kunjung bersemi. Aku tak tahu harus percaya apa lagi. Semua orang bilang kau bahagia, tapi mengapa hatiku terus meratap? Mengapa setiap malam, aku mendengar suara isak tangis dari balik pintu yang terkunci, yang aku tahu itu adalah suaraku sendiri?

Anak

Tubuhku membiru. Tangan ini bengkak, kuku-kuku hitam karena lumpur dan darah ikan. Kapal ini bagaikan penjara terapung. Tidak ada batas, tidak ada tembok, tapi aku tak bisa ke mana-mana. Lautan adalah temboknya, penjaga-penjaganya adalah iblis berwajah manusia. Mereka menertawakan penderitaanku, menganggapku tak lebih dari seonggok daging yang bisa mereka peras tenaganya.

Aku pernah mencoba lari. Terjun ke laut saat penjaga lengah. Tapi air terlalu dingin, arusnya terlalu kuat. Aku ditarik kembali. Dipukuli. Disiksa sampai aku tak bisa merasakan apa-apa lagi selain perih. Setelah itu, aku tak pernah mencoba lagi. Aku hanya bekerja. Bekerja sampai aku lupa siapa aku, lupa di mana aku. Kadang, aku melihat perahu-perahu kecil melintas jauh di cakrawala. Perahu nelayan, seperti milik Ayah dulu. Aku ingin berteriak, ingin memohon bantuan. Tapi suaraku tercekat. Atau mungkin, mereka tidak akan mendengar. Siapa yang akan mendengar tangisan hantu di tengah lautan luas?

Aku melihat bintang-bintang. Jutaan bintang yang dulu selalu kutatap bersama Ayah di teras rumah. Bintang-bintang itu sama, tapi kini mereka tampak asing. Dingin. Mereka seolah menatapku dengan tatapan kosong, tanpa belas kasihan. Mereka tahu segalanya. Mereka tahu bahwa aku terjebak. Terjebak di antara laut dan langit, tanpa arah pulang, tanpa harapan. Hanya ada kehampaan yang tak berujung. Ayah, apakah kau masih memandang bintang yang sama? Apakah kau tahu, anakmu kini telah menjadi karam di lautan yang tak bertepi ini? Aku tak tahu kapan ini akan berakhir. Atau apakah akan berakhir sama sekali. Aku hanya tahu, setiap pagi, matahari terbit lagi, membawa serta siksaan yang sama. Dan setiap malam, aku kembali ke kegelapan yang abadi, memeluk erat bayanganmu yang kian pudar.

***

Pelukan Beruang di Dunia Penuh Warna

oleh: Hari Untung Maulana

Aku, si Beruang Kumal, sudah melihat banyak hal. Terlalu banyak, mungkin, untuk sebuah boneka beruang berusia enam tahun. Lebih tepatnya, aku sudah enam tahun menjadi teman setia Maya, gadis kecilku yang tak pernah berhenti tersenyum. Usianya juga enam, sama sepertiku, tapi dunianya jauh lebih besar—dan jauh lebih berwarna—dari yang bisa dibayangkan siapa pun.

Kami tak punya rumah tembok yang kokoh. Istana kami adalah kolong jembatan yang sejuk di siang hari, atau teras ruko yang tertutup di malam hari. Tapi Maya tak pernah mengeluh. Baginya, setiap tempat baru adalah petualangan. "Beruang, lihat! Ini ranjang baru kita!" serunya riang, saat Ayah dan Ibu menggelar tikar tipis di atas tumpukan kardus bekas. Bagiku, itu hanya bau apek dan debu. 

Tapi di mata Maya, itu adalah istana kardus yang bisa berubah bentuk sesuka hati.

Setiap pagi, saat matahari mulai mengintip dari balik gedung-gedung tinggi, kami akan bangun. Ayah dan Ibu akan mencari rezeki, kadang dengan mengamen, kadang dengan memulung. Maya selalu ikut, berlari kecil di samping mereka sambil memelukku erat. "Kita mau ke mana hari ini, Beruang?" tanyanya dengan mata berbinar. Seolah-olah setiap jalanan adalah taman hiburan pribadi kami.

Aku ingat sekali, suatu siang, saat kami sedang menikmati "makan siang mewah"—roti basi sisa dari tempat sampah—tiba-tiba datanglah rombongan berseragam cokelat muda. Satpol PP, begitu mereka menyebut diri. Ayah dan Ibu tampak cemas, tapi Maya? Ia justru kegirangan! "Lihat, Beruang! Kita mau naik mobil besar!" serunya sambil menunjuk truk bak terbuka yang kini terparkir di depan kami.

Aku terguncang-guncang di pelukannya saat kami dibawa ke kantor Dinas Sosial. Tempat itu penuh dengan anak-anak lain, bau sabun murah, dan kasur-kasur lipat. Ayah dan Ibu terus berbisik-bisik dengan wajah khawatir. Tapi Maya? Ia langsung berlari memelukku, "Ini rumah baru kita, Beruang! Banyak teman baru!" Ia sibuk bermain petak umpet dengan anak-anak lain, tertawa cekikikan seolah kami sedang berlibur di resor mewah. Baginya, itu adalah pesta besar yang tak terduga.

Beberapa waktu kemudian, kami berhasil "kabur" (atau lebih tepatnya, Ayah dan Ibu berhasil kabur dan membawa Maya ikut). Kembali ke jalanan. Maya bersorak. "Hore! Kita kembali ke petualangan!"

Petualangan itu kadang membawa tantangan. Suatu sore, saat Ayah baru saja mendapatkan sedikit uang dari mengamen, datanglah seorang pria bertato besar dengan wajah galak. Preman, begitu orang-orang menyebutnya. Pria itu merebut semua uang Ayah. Ayah dan Ibu hanya bisa menunduk pasrah. Aku bisa merasakan Ayah gemetar di dekat kami. Tapi Maya?

"Lihat, Beruang!" bisiknya sambil menarik lengan bajuku. "Om itu suka main rebut-rebutan! Seru sekali! Kapan kita bisa main seperti itu?" Ia terkikik geli, mengira itu semua adalah bagian dari permainan orang dewasa. Dunia ini sungguh penuh kejutan, pikirnya.

Namun, dunia yang penuh warna itu mulai kehilangan sedikit sinarnya. Ibu mulai sering batuk. Batuknya semakin parah, suaranya semakin pelan. Ayah mencoba mencari obat, tapi uang selalu tak ada. Suatu pagi, saat kami bangun di teras toko yang dingin, Ibu tak bergerak lagi. Wajahnya pucat, senyumnya hilang. Ayah menangis. Tangisannya begitu pilu, sampai aku ingin sekali menghibur Ayah, kalau saja aku bisa bicara.

Aku kira Maya akan sedih. Aku kira dunianya akan runtuh. Tapi tidak. Ia mendekat, memeluk Ibu, lalu mencium pipinya. "Ibu tidur, Ayah?" tanyanya polos. Ayah mengangguk, air matanya tak berhenti mengalir. "Ibu sangat lelah, Nak."

"Oh! Kalau begitu Ibu bisa istirahat yang lama!" seru Maya dengan riang. "Nanti kalau Ibu bangun, kita cerita petualangan seru kita lagi, ya Beruang!"

Ia tidak mengerti. Ia tidak tahu arti kematian. Baginya, Ibu hanya sedang beristirahat sangat, sangat panjang. Setelah Ayah menguburkan Ibu di tempat sepi dekat sungai, Maya masih memelukku erat, menatap Ayah dengan mata berbinar. "Ayah, sekarang kita cuma berdua! Lebih seru! Kita bisa berpetualang lebih jauh lagi!"

Ayah menatap Maya, lalu menatapku, si Beruang Kumal. Ada senyum tipis, pahit, tapi juga mengandung sedikit kekuatan, di bibir Ayah. Ia memeluk Maya erat-erat, seolah mencari sisa-sisa kebahagiaan yang masih memancar dari gadis kecil itu.

Dan kami, si Beruang Kumal dan Maya, terus berpetualang. Di setiap kolong jembatan, di setiap teras toko, di setiap sudut kota yang penuh debu dan keramaian. Maya akan selalu menemukan sesuatu untuk digembirakan. Sebuah kupu-kupu yang melintas, tetesan air hujan yang membentuk genangan untuk ia injak, atau sekadar selembar bungkus permen berwarna cerah. Baginya, dunia ini adalah taman bermain tanpa batas, dan setiap hari adalah kesempatan baru untuk tertawa.

Aku mungkin hanya sebuah boneka. Tapi aku melihat, aku merasa. Aku melihat keajaiban tawa di tengah kesunyian, kebahagiaan di tengah kepedihan. Dan aku tahu, selama Maya masih memelukku, selama ia masih tersenyum, dunia ini akan selalu dipenuhi warna-warna ceria, tak peduli betapa suramnya kenyataan yang mengelilingi kami.

Senin, 01 Januari 2024

SURAT WASIAT 2024

  Oleh: Hari Untung Maulana


Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sahabatku semua yang semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.
Tiada pelindung sebaik-baiknya selain Allah...
hanya memang, apakah kita ingin berlindung kepadaNya..... atau tidak
hanya memang, apakah kita berniat mendekat padaNya untuk dilindungi... atau tidak
Semoga saya dan sahabat semua... termausk dalam golongan yang mendekati-Nya.

Hari ini, Senin, 1 Januari 2024

Jika usia rata-rata manusia adalah 60 tahun... maka usia saya sesungguhnya makin berkurang...
dan hanya tersisa 16 tahun lagi.
Itupun jika Allah memberikan kesempatan saya sampai usia 60 tahun

Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah menghadiri semua pernikahan anak-anak saya Farhan, Furqon, dan Fina
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah menyandang gelar Doktor
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah menimang cucu yang cantik dan tampan
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin sudah banyak keinginan dan harapan saya yang terpenuhi
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah hafal 30 juz Alquran (Aamiin ya Allah, kuatkan iman hamba)
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah mengunjungi menunaikan ibadah haji. Aamiin

Tapi saya tidak tahu, sampai mana batas usia saya.
Bisa jadi 12 tahun lagi
Bisa jadi 10 tahun lagi...... bisa jadi setahun lagi...... seminggu lagi..... sehari lagi..... atau usai saya menulis surat wasiat ini.

Ya Allah, banyak hal yang hamba harapkan dari kematian hamba...
Ya Allah, izinkan hamba menghadapMu dalam keadaan husnul khotimah
Ya Allah, izinkan hamba, jauhkan hamba dari sakitnya Sakaratul Maut, jauhkan hamba dari sakitnya Azab Kubur, jauhkan hamba dari mengerikannya NerakaMu.


Ya Allah, izinkan hamba menghadapMu dalam suasana Ibadah
Ya Allah, izinkan hamba menghadapMu dikelilingi keluarga
Ya Allah, izinkan hamba menghadapMu dalam sebaik-baiknya usaha seorang hamba menghadap penciptanya.

Hari ini, keluargaku, sahabatku, saudaraku
Kumohon permohonan maaf dari Anda semua, yang tidak bisa kusebutkan satu per satu

Berusaha kuingat....
1.  Emak, engkau telah meninggalkan kami semua. Mungkin banyak dosa dan salahku yang belum Emak maafkan. semoga Allah menggantikannya dengan keridhoanNya. 

2. Bapak, mungkin aku belum bisa memberikan yang engkau harapkan, maafkan segala kekurangan anakmu. Kumohon, ikhlaskan semua kesalahanku diwaktu yang lalu. Kumohon, jagalah janda dan anak-anakku.

3. Selama saya bersekolah di SD-SMP-SMA-Universitas: Bapak-Ibu guru yang mungkin mendengar berita kematianku... Kumohon, kirimkan aku doa-doamu....

4. Selama saya bekerja di Kelompok Peron Surakarta Mahasiswa Pekerja Teater, Teater Basah,PT. Tropika Rawamangun, dan Nurul Fikri Boarding School Serang Banten.... selama saya berhubungan dengan Anda (sahabat-sahabat di tempat kerja). Kumohon, maafkan candaku yang sering keterlaluan. Kumohon maafkan janji-janji yang mungkin terlupakan... Seingat saya, saya tidak punya hutang yang sampai saya bisa berurusan dengan pihak yang berwajib.

5. Selama saya menjadi guru, pembimbing organisasi dan mentor di Nurul Fikri ... Anak-anakku, saya minta maaf jika menyakiti dirimu. saya minta maaf jika harus 'memusnahkan' barang-barang ilegal yang kamu bawa ke sekolah. Saya minta maaf jika saya belum bisa memberikan teladan yang sempurna bagi kalian.

6. Selama saya berkenalan dengan Bapak-Ibu orang tua / wali santri... Maafkan segala kelemahan dan kekurangan saya. Jazakallah telah mempercayakan pada saya putra-putri bapak/ibu, maafkan jika saya belum sempurna memberikan bimbingan.

7. Semua orang yang kenal saya... semua orang yang pernah tersakiti oleh saya... semua orang yang pernah bermasalah dengan saya.... Saya Mohon Maaf.... Saya Mohon Maaf.... Saya Mohon Maaf...

Ya Allah, lewat surat ini saya berwasiat untuk keluargaku.

1. Jika waktunya nanti, makamkan saya di tempat yang mudah kalian ziarahi.
2. Jika waktunya nanti, tolong (jika sanggup) bukukan tulisan-tulisan saya di blog -tulisan yang asli bukan yang hasil tik ulang-. Saat ini saya masih senang nge-blog, minat sih ada, tapi belum kuat untuk membukukan semua tulisan saya. Jika tidak bisa, sesungguhnya tidak ada utang yang harus dibayar
3. Untuk mama Niken, ikhlaskan diriku dan lanjutkan kehidupanmu. Panjatkan terus doa darimu untuk ku. Ajarkan anak-anak kita menjadi muslim yang baik. karena lewat doa anak-anak sholehku, aku mendapat cahaya di makamku.
4. Untuk Farhan, Furqon, dan Fina... selalu jaga Mamamu. doakan ayah, dan jadilah muslim yang kaffah
5. Tentang segala harta peninggalanku (jika ada) percayakanlah pengurusannya pada yang mampu. Jika memungkin kan berikan sebagian untuk wakaf ke masjid.

Ya Allah, aku tak tahu ajalku

Jikapun engkau memberikan aku kesempatan hidup hingga tua...
Harapku ya Allah... inginku ya Allah...
Kuatkan imanku
Kuatkan amalku
Kuatkan ibadahku

Jadikan aku muslim yang senang membaca Alquran
Jadikan aku muslim yang selalu menjauhi laranganmu dan menjalankan perintahMu
Jadikan aku muslim yang selalu menjalankan sunah-sunah kekasihMu. Muhammad
Jadikan aku muslim yang memberikan kebaikan bagi orang-orang di sekitarku

Ya Allah....
Syukur atas berkah yang engkau berikan
sampai usia 44-ku

Surat Wasiat ini, semoga menjadi pengingat kematianku
yang akan selalu menemani setiap langkah kehidupanku

Cinangka, 1 Januari 2024

Jumat, 17 November 2023

SAMBUTAN KEPSEK : UP GRADING ORGANISASI

 oleh: Hari Untung Maulana, M.Pd.

Manajer Pendidikan Menengah Atas Pesantren Ibnu Salam Nurul Fikri Boarding School Serang Banten


Salam

Sapa Pembimbing

Terima kasih atas perjuangan mereka mewujudkan kegiatan ini 

Doa untuk peserta

===

Dalam kehidupan ini ada 4 kuadran nilai 

Baik - Buruk

Benar - Salah

Untuk kuadran baik benar.. tidak perlu pertanyaan lagi. Laksanakan, Ikuti

Kegiatan upgrading ini adalah baik dan benar

ikut organisasi siswa adalah baik dan benar

Melaksanakan program-program kesiswaan yang sudah disusun di organisasi atau di tim kesiswaan adalah baik dan benar.

Maka ikutilah dan laksanakan.

Belajar di kelas adalah baik dan benar

Membantu kedua orang tua adalah baik dan benar

Patuh terhadap guru adalah baik dan benar

maka lakukanlah dan biasakanlah

===

Untuk kuadran Salah - Buruk.. maka tinggalkanlah, jauhi, hindari, bahkan kalian ajak orang lain untuk tidak terjebak pada kegiatan Salah Buruk.

Untuk kuadran Baik Salah dan Benar Buruk

Di sinlah, dibutuhkan kedewasaan kalian, pengalaman, syuro, rapat, kerja sama untuk memutuskan yang terbaik.

Pada kegiatan upgrading dua hari ini, 

kami dari sekolah berupaya untuk memberikan pengalaman dan pendewasaan pada kalian, 

kami dari pembina organisasi berusaha untuk menyampaikan materi-materi aplikatif dalam organisasi 

sehingga kalian dapat menerapkannya dalam kehidupan ini ketika bertemu dengan dua kuadran abu-abu tersebut

===

Mari kita tilik apa makna dari "upgrading"

up = meningkat, menaikkan, menjadikan lebih

grade: level, nilai, derajat

kegiatan up grading ini bismillah kita niatkan untuk meningkatkan nilai diri kalian. Bismillah kita laksanakan untuk menaikkan derajat kalian.

Tidak ada niat kita untuk menjadikan kalian Lemah, menjadikan kalian ngantuk, capek, atau berniat untuk ngerjain kalian. 

Pelaksanaan upgrading ini tak lain dan tak bukan, untuk menjadikan kalian pribadi yang tangguh, pintar, mengetahui banyak hal, dan kuat

===

Peserta upgrading sekalian

Kita tidak akan bisa memberi kalau kita tidak punya apa

Upgrading kali ini, dalam rangka untuk memperkaya kalian tentang ilmu organisasi, memberikan bekalan tentang ilmu bekerja sama dengan tim sehingga di luar sana nanti, di kampus, di masyarakat, semua alumni SMA ISLAM NURUL FIKRI BOARDING SCHOOL dapat memberikan yang terbaik bagi kampus dan masyarakat.

Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah

Salam

Jumat, 11 Februari 2022

Joke Operasi Zebra

oleh: Hari Untung Maulana

Seorang pengendara motor tanpa helm tampak senang begitu bertemu dengan polisi yang sedang menjalankan razia.
"Lho, kok kamu mala nyamperin?" tanya petugas.
"Iya Pak, saya gak bawa helm dan SIM... ketinggalan di rumah." katanya
"Kamu saya tilang dan sepeda motor disimpan di kantor."
"Silakan Pak" ujarnya mantap
"Kok kamu malah seneng."
"Saya ke sini karena dikejar-kejar sama dealer Pak, motornya mau disita kalo gak dilunasin. Saya titip sama Bapak dulu ya Pak."

===============###=================

Seorang pelanggar lampu merah diberhentikan polisi
"Maaf pak kirain gak ada polisi."
"Iya pak sama... mohon maaf, kirain saya seharian ini gak ada yang ngelanggar.

===============###=================

Di sebuah perempatan di negeri antah berantah
"Selamat siang, mohon keluarkan surat-surat"
pengendara mengeluarkan uang 100ribuan
"Saya bilang surat2 motor."
"Lha itu surat-surat motor saya Pak."
"Oia.., silakan lanjut jalan."

Rabu, 09 Februari 2022

Seni Ngadepin Guru Marah

Oleh: Hari Untung Maulana

Kita semua sadar lah... kagak bakalan ada orang ngamuk-ngamuk kalao kagak ada penyebabnya. Apalagi orang itu guru kita sendiri, yang sering ngajarin kita di kelas. Biasanya sih, guru marah itu karena beliau udah bingung and gak punya lagi cara untuk negur secara lembut.

Ada seni nya ngadepin guru yang lagi murka.

  1. Kalau guru lagi marah di depan kita, DILARANG dipelototin matanya. Ntar disangkanya malah nantangin . Tapi juga jangan terus-terusan nunduk... ada juga tipe guru yang maunya di dengerin kalau lagi ngomel. Jadi gimana dong? Ya yang bener adalah... kamu tetep nunduk and sekali-kali mengangkat wajah, melihat wajah guru melihat matanya dengan lembut lalu turunkan lagi.
  2. DILARANG ikutan nyolot. Itu guru lagi naik. Kamu jangan ikut-ikutan naik. Bentar aja kok. Sabar dikit. Sadari bahwa kamu gak bakal dimarahin kalau kamu gak salah. Dengerin sambil instropeksi ajah. Kalau marahnya udah mereda, kamu boleh ucapkan terima kasih atas nasihatnya. Dan minta maaf.
  3. Gestur harus tepat. Tahu gestur kan? gerakan tubuh. Inget ya. gestur kamu dapat dideteksi oleh guru apakah kamu mendengarkan nasihatnya atau tidak. Jadi jangan sekali-kali gestur kamu menghadap ke arah samping atau bahkan membelakangi guru. Tubuh harus mengahadp ke guru dan sejajar. Tangan lurus ke bawah atau di sedakepkan di depan perut. Tangan DILARANG dimasukkan ke dalam saku celana. Kepala atau muka DILARANG tengak tengok atau liat ke atas-atas. DILARANG tolak pinggang. 
  4. Jaga ekspresi wajah. Pastikan ekspresi yang kamu keluarkan adalah ekspresi SERIUS MENDENGARKAN DITAMBAH SEDIKIT RASA PENYESALAN atas kesalahan yang diperbuat. DILARANG ekspresi jijik, DILARANG ekspresi marah, DILARANG ekspresi bosan.
  5. DILARANG MENYELA. Dengarkan saja sampai selesai. Jangan dibantah, jangan disela, jangan dipotong.... apalagi disuruh berhenti. JANGAN.



Minggu, 10 Oktober 2021

CARA MEMBUAT SKRIPSI SIAP JUAL

Do It Yourself (Duit-duitmu sendiri)

Ditik ulang dari HumOr

Majalah Gerrr Nasional

edisi Mei 1993

oleh: SM


Skripsi adalah 'perbuatan' wajib yang harus dilakukan mahasiswa untuk mensahkan kelulusannya.  Seorang yang lulus jadi sarjana, insinyur, doktorandus, atau apa saja - tanpa membuat skripsi lebih dulu (meski ada juga) kelulusannya tidak diakui, kalau ketahuan.

Membuat skripsi bukan pekerjaan gampang (bagi yang kurang pintar), juga bukan pekerjaan rumit  (bagi yang terlalu pintar). Apalagi bagi yang pintar memanfaatkan peluang : keciiil.

kasus yang baru beredar tempo hari menyebutkan, bahwa di emperan toko di Yogyakarta, telah ditemukan kurang lebih 1000 buah naskah skripsi yang dijual bebas. Sekarang sudah diamankan petugas. Tak tahulah, berapa yang sudah terjual.

Untuk itulah perlu dibaca DO IT ini, agar pembaca humor tak ketinggalan isu soal skripsi. Buat yang tidak mau kuliah tapi mau bikin skripsi untuk mertua, misalnya, silakan.


Menentukan Topik 

tentunya harus sesuai dengan jurusan yang sedang anda tekuni. Kalau Anda calon insinyur mesin, jangan coba-coba bikin tema tentang cara mengarang lagu dan penjualannya. Kalau terpaksa kesulitan mencari referensi dan data, tak ada salahnya menulis hubungan mesin cetak dengan lagu cengeng!

Menentukan Judul 

Jangan sembarangan. Misalnya membuat judul skripsi seperti membuat judul cerpen. Bayangkan, "Mesin Kusayang - Mesin Kumalang", "Sepotong Mesin Seraut Cinta", "Cinta Ketiban Mesin", atau "Asmara Mesin di Musim Hujan"! 

Mulai Penelitian 

Tempat melakukan penelitian harus yang bonafid. Jangan di sembarang tempat - agar mutu penelitian lebih akurat dan valid. Ya masa, untuk menyelesaikan soal mesin, Anda nongkrong di bengkel sepeda. Juga jangan norak, misalnya Anda membongkar mesin giling yang lagi jalan.

Menyusun Hasil Riset

Sesuaikan dengan aturan yang berlau. Jangan asal tulis. Sistematika, kronologi penelitian dan urutan masalah harus jelas. Jangan sekali-kali menulis soal mesin, Anda masih sempat bikin kalimat seperti ini: "Tanpa mesin penggiling padi, mana mungkin harga cengkeh naik?"

Daftar Pustaka 

Ini penting untuk referensi. Jangan cuma mengarang (meski skripsinya tentang cara mengarang). Daftar pustaka bisa dicari di perpustakaan, toko buku, kaki lima, tukang loak, atau di rumah saya. Selain daftar pustaka, narasumber lainnya perlu juga, misalnya orang atau sejenis orang.

Persembahan 

Tidak selalu harus ada. Kalau memang Anda mau membuat, ya persembahkan saja buat siapa saja yang benar-benar membantu Anda dalam membuat skripsi tersebut. Misalnya mesin tik atau komputer, kursi, meja, atau penjual nasi goreng.

Konsultasi ke Dosen Pembimbing 

Yah, untuk mendapatkan acc (asese) dari dosen pembimbing bukan pekerjaan ringan apalagi kalau dosennya tidak kita kenal dan tidak kenal kita. Kasus yang sering terjadi - biasanya si dosen memberikan beberapa coretan pada hasil skripsi. Artinya: meledek skripsi Anda. Untuk menghindarinya jauhkan dia dari benda-benda atau alat tulis yang bisa digunakan untuk mencorat-coret 

Catatan :

Metode ini dapat ditiru atau dijiplak, sejauh tidak dijual di Pasar Loak.

Rabu, 29 September 2021

Contoh Anekdot di Optik

 oleh: Hari Untung Maulana, M.Pd.


(anekdot di optik)


Saya Yang Murah Ajah

Jadi ibu minus 3 ya...

Kacanya berapa harganya kalau minus 3?

400.000

Wah mahal amat.... saya minus 1 aja deh, berapa?.


Nyembuhin Mata Plus

Sebenarnya gampang lho nyembuhin mata plus

gimana caranya?

Sering-sering aja baca di tempat gelap, nonton TV deket-deket.

Terus?

Nah, kan nanti matanya jadi minus tuh... kan bakal netral plus ketemu minus.


Nyebut

(baca tulisan yang paling bawah) 1472

Yee.. itu mah bisa karena pakai kacamata... coba sekarang kacamatanya dicopot

(copot kacamata) jadi gak kebaca sekarang

Lha.. masak lupa... kan tadi udah nyebut... tinggal sebut aja lagi.

Ooooo... jadi aku nyebut aja?

Lha iyalah, kan tadi udah lihat

ok nyebut ya.... Astaghfirullah.... Astaghfirullah... Astaghfirullah.... 

Bukan nyebut begitu Bapak...


Yang Murah Mana?

Ini kacanya mahal-mahal ya?

kemarin saya pakai kaca yang murah jadinya malah repot

kaca apa?

kaca nako... buka tutupnya repot


Senin, 20 September 2021

Contoh Tulisan Literasi Kepala Sekolah

 Tadabbur Kepemimpinan 9:71

Hari Untung Maulana, M.Pd.

 

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS.9 : At-Taubah Ayat 71).

SAUJANAKU

Prinsip hidup saya selama ini adalah… “Lemparkan cita-cita setinggi langit dan mulailah susun anak tangga untuk menggapainya.” Perencanaan menjadi bagian dalam kehidupan saya. Ketika saya memutuskan menjadi guru bahasa Indonesia dahulu kala, maka di kampus, saya mulai merencanakan untuk menjadi guru yang spesial.

Pada waktu yang bersamaan, selama empat tahun berkuliah, saya ikut teater (4 thn), menjadi ketua pengurus perpustakaan (2 thn), berlatih public speaking dengan ikut organisasi partai kampus, senat, dan BEM (2 thn), menjadi bagian dari majalah kampus (1 thn), dan bekerja sebagai operator rental komputer untuk berlatih menulis dengan komputer (2 thn). Berkat kegiatan yang tidak saya temukan di ruang kuliah tersebut, saya akhirnya merasa begitu mudahnya mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia kepada para siswa.

Faktanya, menjadi guru bahkan kepala sekolah di sebuah pesantren, merupakan hal yang tidak pernah ada dalam pikiran saya sebelumnya. Besar dari keluarga yang pemahaman Islamnya di bawah rata-rata. Bahkan saya baru tahu ibadah yang benar ya setelah masuk di tempat saya bekerja ini. Mengajar di pesantren benar-benar karena rahmat dan hidayah dari Allah SWT untuk diri saya. Saya yakin, Allah yang membimbing saya ke pesantren dan Allah juga yang akan menjaga saya.

Tahun-tahun awal ketika saya bekerja di Nurul Fikri, menjadi Kepala Sekolah merupakan salah satu keinginan untuk peningkatan kompetensi diri yang pernah terbersit dalam benak saya. Namun, tentu tidak bisa ujug-ujug menjadi kepsek apalagi dengan latar belakang saya yang nol pengalaman pesantren dan mengajar. Saya perlu mempersiapkan pondasi yang kuat dengan perencanaan yang matang untuk bisa menuju ke sana.

Tidak ingin hanya sebagai guru semata, saya tunjukkan pada lembaga bahwa saya kompeten pada semua amanah yang diberikan. Saya tidak meminta amanah, tetapi setiap amanah yang ditugaskan, akan selalu saya kerjakan dengan sebaik mungkin dan semampu saya. Kepala Perpustakaan (1 thn), Ketua Tim Kedisiplinan Pesantren (4 thn), Wakakur (4 th), Wakasis (3 thn), Kepala Keasramaan (2 thn) dan sempat berkuliah Pascasarjana, membuat anak tangga saya makin kokoh menjulang hampir menyetuh cita-cita yang pernah saya lemparkan. Dan ketika lembaga meminta saya menjadi Kepala Sekolah. Saya merasa inilah saatnya.

Sejak awal menjadi Kepala Sekolah (yang saat ini baru jalan 3 tahun) saya berusaha menerapkan kerja dengan konsep At.Taubah ayat 71.

  1. Menyadari bahwa anggota tim adalah orang-orang beriman, yang sudah tentu mereka sangat paham dalam ketaatan vertikal dan pemahaman sosial horizontal. Bersama orang-orang sholeh dan sholehah tentu akan sangat mudah dan menyenangkan dalam bekerja.
  2. Saling tolong dan bergerak bersama. Mengoptimalkan kemampuan individu untuk saling mendukung program yang telah disusun bersama.
  3. Saling mengingatkan dan selalu mengajak pada yang makruf. Fokus pada kebaikan dan lupakan hal-hal yang menjermuskan ke maksiatan
  4. Saling mencegah dari yang mungkar. Mengingatkan satu sama lain dan menolak segala bentuk kemungkaran.


Dengan konsep ini saya yakin, semua pekerjaan akan dengan mudah dikerjakan bersama, karena visi saya dalam kepemimpinan adalah, menjadi leader bukan menjadi boss.

 

TANTANGAN EKSTREM vs KERJA SAMA

Sejuta kisah telah terukir sebagai jejak hidupku. Ada yang suka, bahagia, dan ria namun banyak juga yang duka, lara, dan nestapa. Semuanya itu selalu sama kusikapi. Bahwa Allah-lah Sang Sutradara di balik segala cerita. Setiap permasalahan yang menimpa diri saya baik urusan pribadi maupun urusan kerja. Maka tak ada tempat curhat yang tepat selain hanya kepada Allah semata. Kuserahkan hidup matiku hanya untuk Allah SWT.

Dalam menghadapi tantangan ekstrem yaitu melakukan pembelajaran online di masa pandemi, maka tak lain tak bukan, hanya dengan bekerja sama antarseluruh masyarakat sekolah lah yang dapat menyelesaikan semua permasalahan.

Bagai semut mencari gula-gula. Para guru saling bekerja sama, saling bantu, tebar informasi, dan coba sana coba sini dalam mempraktikkan pembelajaran online. Suatu jenis pembelajaran yang bahkan belum pernah diajarkan di kampus-kampus dan di pelatihan-pelatihan dari kementerian pendidikan sebelumnya. Pembelajaran Online menjadi pemantik baru untuk dalam mempelajari teknologi digital. Mencicipi lezatnya zoom, pen tablet, kuis digital, game pelajaran digital, dan lain-lain membuat guru bersemangat belajar kembali.

Sebagai kepala sekolah, saya berusaha memberikan fasilitas untuk mempermudah pembelajaran online. Bersama tim kepala unit yang lain di pesantren serta berkat dukungan para kepala bidang, direktur yayasan, dan pengurus yayasan, serta orang tua siswa, kami mencoba untuk memberikan yang terbaik bagi para guru dalam menjalankan pembelajaran online.

Kami berusaha memahami apa yang guru butuhkan. Berbagai sarana pembelajaran online yang belum kita miliki, sebisa mungkin dibeli. Ketika guru menyampaikan mata mereka mulai berair karena banyak melihat layar komputer, maka kami belikan mereka vitamin untuk mata. Ketika guru mulai merasa badan mereka pegal-pegal karena seharian hanya duduk di kursi depan komputer, kami belikan untuk mereka alat pijat portabel yang bisa digunakan di kursi apapun.

Kami sadar, kami harus memberikan kenyamanan agar para guru dapat mengajar dengan tenang. Bahkan, demi terjaganya para guru dan siswa dari virus ini, lembaga sampai harus membuat peraturan yang sangat tidak populis. Yaitu, dengan membatasi keluar masuk orang dari dan ke lingkungan pesantren dan lain sebagainya.

CERITA KU

Tujuh bulan pertama saat saya diamanahkan untuk menjadi Kepala Sekolah di SMA Islam Nurul Fikri Serang Banten, ketika saya masih dalam masa penyesuaian jabatan, ketika saya masih menyusun rencana-rencana ke depan… Tanpa pemberitahuan sebelumnya, musibah itu datang …………. Dia menginap di kamar-kamar kita, di lorong-lorong temaram klinik, di bangsal-bangsal suram rumah sakit. Dia menjadi tamu yang meneror tuan rumahnya. PANDEMI COVID-19

Saat itu bulan Maret hari Ahad, ketika semua santri di Nurul Fikri diminta untuk pulang. Terburu-buru, Ayah Bundanya tergopoh-gopoh menjemput, berangkat dari domisili masing-masing. Dalam dua hari, Pesantren NFBS Serang….. lengang. Saya, Kepala Sekolah balita… dihadapkan pada persoalan ekstrem yang belum pernah ada contohnya.

[ Berdiri di ujung jalan menatap kabut yang pekat ]

[ Tak tahu ada aral apa yang melintang ]

[ Tak jelas apakah ada perompak yang mengadang ]

 Bismillah, hal pertama yang saya sadari adalah, ternyata saya dikeliling oleh guru-guru yang sangat tangguh, guru-guru yang begitu cepat belajar menyesuaikan keadaan, sebuah tim pekerja yang tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, namun juga paham bagaimana cara melakukan. Bersama mereka, saya melihat kabut yang menyelimuti jalan di depan… tersibak perlahan-lahan memperlihatkan kembali tujuan yang harus kami gapai.

Kini guru-guru di SMA Islam Nurul Fikri Boarding School Serang Banten telah begitu familiar dengan zoom, canggih saat membuat soal dengan Google form, menarik dalam penyusunan powerpoint, dan keren saat diminta membuat video pembelajaran. Di sisi lain, guru-guru tetap memiliki konsistensi yang kokoh dalam mengawal karakter peserta didik baik saat pembelajaran online maupun pembelajaran offline.

Semoga Allah melindungi dan memudahkan segala ikhtiar kita.

Ikan Hiu Muter-Muter …. See you later

 

Hari Untung Maulana, M.Pd.

Profil Penulis

 

Kenalin, saya Hari Untung Maulana, M.Pd. tapi sahabat semua dapat memanggil saya Harun. Ini singkatan dari Hari Untung.

Saya lahir di Jakarta, 20 Januari 1980 dari rahim seorang emak bernama Sri Rahayu dan besar oleh penjagaan ayah bernama Sukiyat.

Saat ini, saya diamanahi sebagai Kepala Sekolah di SMA Islam Nurul Fikri Boarding School Serang Banten.

Sahabat semua dapat berkomunikasi dengan saya lewat

Pos-el : hariuntungmaulana@gmail.com

FB: hari untung maulana

Hp/Wa : 081906238277

Kamis, 16 September 2021

CONTOH DOA DI UPACARA BENDERA

 oleh : Hari Untung Maulana, M.Pd.


Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Nahmaduhu wanasta’inu wanastaghfiruhu wana’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyiaati a’maalina. Min yahdillah falaa mudhillalahu wamin yudhillhu falaa haadiyalahu. Allohumma solli wasalim ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa alihi wasohbihi ajma’ina amma ba’du.

Aamiin, yaa Robbal ‘aalamiin

Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Anugerahilah kami kehidupan yang penuh ketaqwaan dan keberkahan.

Ya Allah yang Maha Pemurah, anugerahilah kami ilmu yang bermanfaat, bagi Islam, bagi diri kami, bagi orang tua, nusa, dan bangsa.

Ya Allah, jadikanlah kami anak yang sholeh yang berbakti kepada-Mu dan kepada orang tua kami.

Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa kami, dosa orang tua kami, dan dosa bapak ibu guru kami, yang telah mendidik dan membimbing kami ke jalan yang benar.

Ya Allah,yang Maha Kuat, jadikanlah kami santri Nurul Fikri, sebagai pribadi-pribadi yang selalu berbuat kebaikan, selalu saling menyemangati dan menolong serta jadikanlah kami dalam satu ikatan persaudaraan di dunia dan di akhirat.

Ya Allah, yang Maha Menjaga, jauhkanlah kami dari perbuatan melanggar aturan yang akan menyengsarakan kami dan membuat malu kedua orang tua kami.

Ya Allah yang Maha Tahu, perkenankanlah doa kami karena Engkau Sang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Robbana ‘atina fiddun yaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqina adzabannaar.

Wabillahii taufik wal hidayah,

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


CONTOH SAMBUTAN KEPALA SEKOLAH DI BUKU TAHUNAN SISWA

Kehidupanmu Bukan Hanya Milik Dirimu Sendiri

 

Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Masihkah Allah Bersamamu?

Ketika kau buka buku ini lagi, dan kau baca lagi sapaan dari Ust Harun. Sesungguhnya itu adalah sapaan dari kami semua. Seluruh keluarga besar SMA Islam Nurul Fikri Boarding School Serang Banten. Sapaan yang ‘kan menjelma menjadi doa yang ‘kan terus merengkuh setiap jejak yang engkau torehkan.

“Semoga kalian selalu diberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT.” ------ sampai hari ini.

dan...

Ketika kau baca lagi pertanyaan di atas, sesungguhnya itu pertanyaan dari kami semua, termasuk dari ayah bundamu, sahabat-sahabatmu, guru-gurumu, dan saudara-saudaramu. Semoga jawaban atas pertanyaan itu mampu memberikan taman bunga di hati kami semua.

Tholib semua,

Bertebaranlah kalian ke penjuru muka bumi. Sampaikan pesan Islam yang damai. Setelah tercapai apa yang engkau citakan, jangan lupakan Nurul Fikri sebagai salah satu awal jejak langkahmu.

PULANGLAH ... !

Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Dalam hening bakda Ashar di NFBS

4 Desember 2020

Hari Untung Maulana, M.Pd.


Rabu, 15 September 2021

Contoh Sambutan Kepsek Untuk Majalah Karya Ilmiah

 oleh: Hari Untung Maulana, M.Pd.

PETAK UMPET PENGETAHUAN

Assalamu’alaikum wr.wb.

Ayo bermain petak umpet pengetahuan,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS Al Ghaasyiah [88]: 17-20). 

"Dan Allah menurunkan dari langit itu air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minuman dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (QS An Nahl [16]: 65-66).

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? (QS Ar Rum [30]: 8).

“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS Ar Ra'd [13]: 3).”

Petak umpet pengetahuan adalah permainan menyenangkan untuk mencari kembali semua ilmu pengetahuan yang tersembunyi di sudut-sudut alam raya. Research (penelitian) berasal dari dua kata re (kembali) dan search (mencari).

Majalah ini, memuat keceriaan dan keasyikan para peneliti muda yang sedang bermain petak umpet pengetahuan. Mereka memperhatikan dengan teliti, mendengarkan dengan saksama, dan memikirkan dengan tafakur yang sempurna. Berusaha membuka tirai yang menutupi rahasia jagad.

Ayo kita bermain bersama,

Bertebaranlah kita ke seluruh penjuru dunia, satu-satu menyibak cakrawala tuk temukan aksioma dan umumkan pada khalayak, bahwa kita menjadi bagian dari KAUM YANG MEMIKIRKAN.

Semoga Allah ridho dan memudahkan

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Hari Untung Maulana, M.Pd.

Kepala SMA Islam Nurul Fikri Serang Banten


Jumat, 01 Januari 2021

SURAT WASIAT 2021

 Oleh: Hari Untung Maulana


Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sahabatku semua yang semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.
Tiada pelindung sebaik-baiknya selain Allah...
hanya memang, apakah kita ingin berlindung kepadaNya..... atau tidak
hanya memang, apakah kita berniat mendekat padaNya untuk dilindungi... atau tidak
Semoga saya dan sahabat semua... termausk dalam golongan yang mendekati-Nya.

Hari ini, Jumat, 1 Januari 2021

Jika usia rata-rata manusia adalah 60 tahun... maka usia saya sesungguhnya makin berkurang...
dan hanya tersisa 19 tahun lagi.
Itupun jika Allah memberikan kesempatan saya sampai usia 60 tahun

Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah menghadiri semua pernikahan anak-anak saya Farhan, Furqon, dan Fina
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah menyandang gelar Doktor
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah menimang cucu yang cantik dan tampan
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin sudah banyak keinginan dan harapan saya yang terpenuhi
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah hafal 30 juz Alquran (Aamiin ya Allah, kuatkan iman hamba)
Saat saya berusia 60 tahun, mungkin saya sudah mengunjungi rumahMu Makkah Al Mukarramah

Tapi saya tidak tahu, sampai mana batas usia saya.
Bisa jadi 12 tahun lagi
Bisa jadi 10 tahun lagi...... bisa jadi setahun lagi...... seminggu lagi..... sehari lagi..... atau usai saya menulis surat wasiat ini.

Ya Allah, banyak hal yang hamba harapkan dari kematian hamba...
Ya Allah, izinkan hamba menghadapMu dalam khusnul khotimah
Ya Allah, izinkan hamba, jauhkan hamba dari sakitnya Sakaratul Maut, jauhkan hamba dari sakitnya Azab Kubur, jauhkan hamba dari mengerikannya NerakaMU .
Ya Allah, izinkan hamba menghadapMu dalam suasana Ibadah
Ya Allah, izinkan hamba menghadapMu dikelilingi keluarga
Ya Allah, izinkan hamba menghadapMu dalam sebaik-baiknya usaha seorang hamba menghadap penciptanya.

Hari ini, keluargaku, sahabatku, saudaraku
Kumohon permohonan maaf dari Anda semua, yang tidak bisa kusebutkan satu per satu

Berusaha kuingat....
1.  Bapak dan Emak.... mungkin aku belum bisa memberikan yang engkau harapkan, maafkan segala kekurangan anakmu. Kumohon, ikhlaskan semua kesalahanku diwaktu yang lalu. Kumohon, sayangilah janda dan anak-anakku.
2. Selama saya bersekolah di SD-SMP-SMA-Universitas: Bapak-Ibu guru yang mungkin mendengar berita kematianku... Kumohon, kirimkan aku doa-doamu....
3. Selama saya bekerja di Kelompok Peron Surakarta Mahasiswa Pekerja Teater, Teater Basah,PT. Tropika Rawamangun, dan Nurul Fikri Boarding School.... selama saya berhubungan dengan Anda (sahabat-sahabat di tempat kerja). Kumohon, maafkan candaku yang sering keterlaluan. Kumohon maafkan janji-janji yang mungkin terlupakan... Seingat saya, saya tidak punya hutang yang sampai saya bisa berurusan dengan pihak yang berwajib.
4. Selama saya menjadi PJ Kedisiplinan di NF... Anak-anakku, saya minta maaf jika menyakiti dirimu. saya minta maaf jika harus 'memusnahkan' barang-barang ilegal yang kamu bawa ke sekolah. Saya minta maaf jika saya belum bisa memberikan teladan yang sempurna bagi kalian.
5. Selama saya berkenalan dengan Bapak-Ibu orang tua / wali santri... Maafkan segala kelemahan dan kekurangan saya. Jazakallah telah mempercayakan pada saya putra-putri bapak/ibu, maafkan jika saya belum sempurna memberikan bimbingan.
6. Semua orang yang kenal saya... semua orang yang pernah tersakiti oleh saya... semua orang yang pernah bermasalah dengan saya.... Saya Mohon Maaf.... Saya Mohon Maaf.... Saya Mohon Maaf...

Ya Allah, lewat surat ini saya berwasiat untuk keluargaku.

1. Jika waktunya nanti, makamkan saya di tempat yang mudah kalian ziarahi.
2. Jika waktunya nanti, tolong (jika sanggup) bukukan tulisan-tulisan saya di blog -tulisan yang asli bukan yang hasil tik ulang-. Saat ini saya masih senang nge-blog, minat sih ada, tapi belum kuat untuk membukukan semua tulisan saya. Jika tidak bisa, sesungguhnya tidak utang yang harus dibayar
3. Untuk mama, ikhlaskan diriku dan lanjutkan kehidupanmu. Ttitip doamu untuk ku. Ajarkan anak-anak kita menjadi muslim yang baik. karena lewat doa anak-anak sholehku, aku mendapat cahaya di makamku.
4. Untuk Farhan, Furqon, dan Fina... selalu jaga Mamamu. doakan ayah, dan jadilah muslim yang kaffah
5. Ttg segala harta peninggalanku (jika ada) percayakanlah pengurusannya pada yang mampu. Jika mungkin berikan 30 persen untuk wakaf.

Ya Allah, aku tak tahu ajalku

Jikapun engkau memberikan aku kesempatan hidup hingga tua...
Harapku ya Allah... inginku ya Allah...
Kuatkan imanku
Kuatkan amalku
Kuatkan ibadahku

Jadikan aku muslim yang senang membaca Alquran
Jadikan aku muslim yang selalu menjauhi laranganmu dan menjalankan perintahMu
Jadikan aku muslim yang selalu menjalankan sunah-sunah kekasihMu. Muhammad
Jadikan aku muslim yang memberikan kebaikan bagi orang-orang di sekitarku

Ya Allah....
Syukur atas berkah yang engkau berikan
sampai usia 41ku

Surat Wasiat ini, semoga menjadi pengingat kematianku
yang akan selalu menemani setiap langkah kehidupanku

Cinangka, 1 Januari 2021